Lonjakan besar diproyeksikan bakal terjadi pada harga logam mulia dalam negeri yang berpotensi menyentuh angka hampir Rp3 juta per gram pada pekan depan. Meningkatnya ketegangan geopolitik global serta melesatnya permintaan terhadap aset aman atau safe haven menjadi pendorong utama tren kenaikan ini.
Seperti dilansir dari Investortrust, pergerakan positif harga emas batangan di dalam negeri ini terjadi secara otomatis mengikuti penutupan harga emas dunia yang berada di level tinggi.
Analis pasar keuangan Ibrahim Assuaibi memberikan rincian mengenai kondisi terkini pergerakan harga komoditas tersebut.
"Harga emas dunia, ya kemarin ditutup di 4.708. Kemudian logam mulianya di Rp2.845.000 per gram," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).
Penguatan yang terus berjalan konsisten dinilai bakal membawa harga emas melaju untuk menguji area resisten yang berada di posisi jauh lebih tinggi.
"Resisten kedua yaitu di 4.832 dolar per troy ons, yaitu logam mulianya di Rp2.980.000," ujarnya.
Para investor meski begitu tetap diingatkan untuk mengantisipasi munculnya fase koreksi teknis dengan memperhatikan titik dukungan atau support.
"Kalau seandainya turun, ya support-nya pertama itu di 4.651 ya dolar per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp2.800.000 per gram," ujarnya.
Ketidakpastian situasi perang di kawasan Timur Tengah menjadi stimulus utama di balik fluktuasi harga ini, khususnya risiko gesekan langsung Amerika Serikat dengan Iran di wilayah Selat Hormuz. Langkah bank sentral dari sejumlah negara besar yang aktif mengoleksi emas juga ikut memperkokoh fondasi nilai logam mulia di samping faktor konflik bersenjata.
"Negara-negara anggota BRICS sudah kembali memupuk membeli ya emas logam mulia sebagai cadangan devisanya. Ya karena apa? Karena kita lihat bahwa negara-negara anggota BRICS tahu bahwa kemungkinan besar perang ini akan panjang," ucapnya.