Harga Emas Antam Proyeksikan Sentuh Rp 2,9 Juta per Gram dalam Sepekan 24 Mei 2026

Harga Emas Antam Proyeksikan Sentuh Rp 2,9 Juta per Gram dalam Sepekan 24 Mei 2026
Foto: Ilustrasi Harga Emas Antam Proyeksikan Sentuh Rp 2,9 Juta per Gram dalam Sepekan 24 Mei 2026.

Harga emas batangan PT Antam Tbk (ANTM) diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 2.650.000 hingga Rp 2.900.000 per gram dalam sepekan ke depan. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh sentimen global dan pergerakan mata uang.

Seperti diberitakan oleh Investor Daily, pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa harga emas Antam ditutup pada level Rp 2.773.000 per gram pada hari Sabtu.

"Jika turun, support pertama di Rp 2.753.000 per gram. Support kedua di Rp 2.650.000 per gram," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Ibrahim mengungkapkan bahwa jika harga komoditas ini mengalami kenaikan, target batas atas pertama berada di angka Rp 2.797.000 per gram pada Senin depan. Sementara itu, untuk proyeksi sepekan ke depan hingga Sabtu, batas atas kedua diperkirakan mencapai Rp 2.900.000 per gram.

Pergerakan nilai komoditas logam mulia ini sangat dipengaruhi oleh situasi geopolitik internasional. Ketegangan yang masih berlanjut di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina menjadi salah satu pemicu utama roda pergerakan harga.

Kondisi di Timur Tengah juga terus memanas akibat serangan yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon Selatan dan Jalur Gaza. Di sisi lain, terdapat perkembangan terkait pernyataan Donald Trump mengenai nota kesepahaman perdamaian dengan Iran yang berpotensi membuka Selat Hormuz.

Dari sektor kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Presiden Federal Reserve Thomas Barkin. Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat saat ini dinilai berada dalam posisi ideal untuk mengantisipasi guncangan ekonomi sekalian menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang.Walaupun mayoritas pejabat moneter AS ingin mempertahankan tingkat suku bunga tinggi, Thomas Barkin memberikan sinyal positif. Penurunan suku bunga acuan berpeluang dilakukan pada akhir tahun ini apabila inflasi jangka panjang tetap terkendali.

Faktor Struktural Pelemahan Rupiah

Faktor domestik yang turut memengaruhi pasar adalah fluktuasi nilai tukar rupiah. Ibrahim menilai pelemahan mata uang garuda bukan disebabkan oleh kesalahan teknis moneter Bank Indonesia, melainkan problem struktural.

Defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural dan bukan musiman menjadi akar utama melemahnya kurs rupiah. Defisit yang kini mendekati level 3% tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia serta penguatan indeks dolar AS.

"Jadi akar utama dari neraca defisit neraca transaksi berjalan yang terus mendekati level 3% ini akibat dari naiknya harga minyak dan naiknya indeks dollar," tambahnya.

Untuk mendorong penguatan mata uang nasional, diperlukan stimulasi berupa aliran modal masuk. Namun, sejauh ini instrumen yang masuk didominasi oleh penambahan utang, bukan melalui investasi asing langsung.

Artikel terkait

Rekomendasi