Harga emas diprediksi akan bergerak stabil dalam rentang volatilitas antara US$ 4.650 hingga US$ 4.810 per ons selama lima hari perdagangan ke depan, termasuk pada Selasa, 12 Mei 2026. Prediksi yang dilansir dari Investor Daily ini merujuk pada ulasan terbaru dari Traders Union.
Analisis dari Traders Union menunjukkan adanya peluang lebih dari 80 persen bahwa pergerakan harga akan cenderung mendatar dalam kisaran tersebut. Kondisi pasar saat ini dinilai masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai logam mulia ini.
Apabila terjadi breakout bullish ke atas level US$ 4.810, harga emas berpotensi mengejar level tertinggi baru. Sebaliknya, penurunan di bawah US$ 4.650 dapat memicu pengujian level support tambahan, meski struktur pasar saat ini masih mendukung tren kenaikan jangka panjang.
Viktoras Karapetjanc, pakar di Traders Union, mengamati adanya ketahanan yang berkelanjutan pada komoditas emas. Faktor hambatan kebijakan dari India sejauh ini berhasil diredam oleh tingginya minat dari sektor lainnya.
Ia mengungkapkan bahwa kuatnya permintaan institusional menjadi penyeimbang utama. Hal ini terlihat dari aksi akumulasi yang dilakukan oleh Bank Sentral India serta lonjakan volume perdagangan pada instrumen tokenisasi yang menarik minat investor besar.
ÔÇ£Dengan fundamental yang kuat dan format pasar baru yang mendorong partisipasi, saya memperkirakan emas akan tetap didukung dan setiap penurunan menuju US$ 4.650 akan memberikan peluang bagi pembeli jangka menengah,ÔÇØ sebutnya dikutip Selasa (12/5/2026).
Meskipun indikator teknikal saat ini menunjukkan hasil yang beragam, dukungan jangka panjang bagi emas dinilai tetap solid. Posisi harga masih mampu bertahan di atas rata-rata utama, memberikan kepercayaan diri bagi para pelaku pasar.
Di sisi lain, Trading Economics melaporkan bahwa harga emas sempat terkoreksi mendekati level US$ 4.700 per ons pada Selasa siang waktu Indonesia. Penurunan ini membalikkan tren penguatan yang sempat terjadi pada awal sesi perdagangan hari ini.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, menjadi pemicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan risiko inflasi yang kini menjadi fokus utama para investor global.
Dolar yang menguat juga memberikan tekanan tambahan pada pergerakan emas batangan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa status gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam kondisi kritis setelah menolak usulan perdamaian terbaru dari Teheran.
Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai gangguan jalur pelayaran penting di Selat Hormuz dalam jangka waktu lama. Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan tim keamanan nasional untuk membahas potensi dimulainya kembali operasi militer di wilayah tersebut.
Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga tengah meninjau rencana pengawalan bagi kapal-kapal komersial yang melintasi jalur tersebut. Ketidakpastian politik ini membuat investor cenderung bersikap waspada dalam mengambil posisi investasi baru.
ÔÇ£Pada saat yang sama, investor menunggu data inflasi konsumen AS terbaru untuk mendapatkan petunjuk tentang bagaimana konflik Iran telah memengaruhi tekanan harga,ÔÇØ pungkas Trading Economics.