Harga Elpiji Bright Gas 12 Kg Melonjak di Jakarta Selatan

Harga Elpiji Bright Gas 12 Kg Melonjak di Jakarta Selatan
Foto: Ilustrasi Harga Elpiji Bright Gas 12 Kg Melonjak di Jakarta Selatan.

Warga di wilayah Jakarta Selatan mulai mempertimbangkan peralihan penggunaan bahan bakar setelah harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kilogram melonjak hingga Rp228.000 per tabung pada Minggu, 19 April 2026. Kenaikan drastis sebesar Rp36.000 dari harga sebelumnya ini mulai menekan pengeluaran dapur masyarakat kelas menengah.

Dilansir dari Megapolitan, pemantauan di sejumlah agen menunjukkan kisaran harga baru berada pada angka Rp228.000 hingga Rp229.500 per tabung. Angka ini bahkan menyentuh Rp247.000 di beberapa minimarket kawasan Pasar Minggu, sehingga memicu rencana warga untuk beralih ke gas subsidi 3 kilogram.

Fia, seorang warga Jakarta Selatan, menyatakan keterkejutannya atas lonjakan harga yang dirasa jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Ia menilai selisih kenaikan tersebut cukup besar sehingga lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

"Kalau saya sih masih mampu beli, tapi kalau naiknya sebanyak ini, rasanya mending beli yang 3 kg saja," ujar Fia.

Meskipun selama ini memilih Bright Gas karena faktor keamanan dan kepraktisan, Fia tidak menutup kemungkinan untuk pindah ke tabung subsidi. Ia mengaku kenaikan ini berdampak langsung mengingat konsumsi keluarganya mencapai satu tabung besar per bulan.

"Kalau naiknya Rp 30.000 lebih kan lumayan banget. Bisa buat kebutuhan lain," ucap Fia.

Warga lainnya, Yadhi, juga mengungkapkan keresahan yang sama mengenai beban tambahan bagi rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ia berharap adanya solusi agar masyarakat tidak terpaksa menggunakan jatah elpiji bagi warga kurang mampu.

"Kalau naiknya sedikit saya masih oke. Tapi kalau dari Rp 192.000 jadi Rp 228.000, itu naiknya jauh. Saya jadi mikir, apa lebih baik pakai yang 3 kg saja buat sementara," ujar Yadhi.

Bagi Yadhi, realistis dalam mengatur pengeluaran menjadi prioritas saat semua harga kebutuhan pokok merangkak naik. Ia menekankan perlunya strategi pengaturan keuangan yang lebih ketat untuk bertahan.

"Bukan enggak mampu, tapi kita juga harus realistis. Semua kebutuhan naik, jadi pengeluaran harus diputar otak," kata Yadhi.

Dari sisi penyedia, pemilik agen elpiji di Cilandak bernama Suryanto mengonfirmasi adanya penurunan aktivitas pembelian langsung di tokonya sejak penyesuaian harga berlaku. Meski pelanggan tetap melakukan pemesanan melalui pesan singkat karena kebutuhan mendesak, keluhan tetap bermunculan.

"Keluhan pasti ada. Mereka bilang mahal, naiknya jauh. Tapi ujung-ujungnya tetap pesan juga, karena butuh," ujar Suryanto.

Suryanto mengamati bahwa faktor kepraktisan dan kapasitas besar masih menjadi alasan utama pelanggan tidak langsung bermigrasi ke tabung kecil. Namun, jumlah pembeli yang datang langsung ke gerainya berkurang secara signifikan dibandingkan hari biasanya.

"Hari ini baru dua orang yang beli langsung. Biasanya lebih ramai," kata Suryanto.

Merespons situasi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan mengenai peruntukan produk nonsubsidi di kantor kementerian. Ia menekankan bahwa LPG 12 kg ditujukan bagi kelompok masyarakat yang secara finansial masuk kategori mampu.

"Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan," ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan bahwa prioritas bantuan energi dari negara tetap ditujukan bagi warga yang membutuhkan. Ia mengimbau kelompok masyarakat mampu untuk memberikan kontribusi melalui penggunaan produk nonsubsidi demi membantu keseimbangan negara.

"Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok," ucap Bahlil.

Menteri ESDM menegaskan bahwa harga gas melon 3 kg dipastikan tetap stabil atas instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Hal ini berbeda dengan produk nonsubsidi yang fluktuasinya sangat bergantung pada kondisi pasar global.

"Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan," kata Bahlil.

Ia juga menyentil masyarakat berpenghasilan tinggi agar memiliki kesadaran untuk tidak mengambil hak masyarakat miskin. Menurutnya, tidak pantas jika warga dengan pendapatan sangat besar masih menggunakan barang bersubsidi.

"Harga pasar (yang nonsubsidi). Jadi contoh model kayak orang kaya, masa orang pendapatannya di atas Rp 500 juta per bulan disuruh pakai elpiji 3 kg? Sorry ye," kata Bahlil.

Menutup keterangannya, Bahlil menjamin bahwa stok elpiji nasional saat ini berada dalam posisi aman di atas standar minimum. Pemerintah juga telah mengamankan sumber impor baru untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah konflik global.

"Alhamdulillah Pertamina dengan kami di ESDM, dan semua pemangku kepentingan selalu melakukan konsolidasi untuk mencari alternatif-alternatif terbaik dan sekarang posisi elpiji kita di atas standar minimum nasional. Jadi insyaallah clear," pungkas Bahlil.

Artikel terkait

Rekomendasi