Pelemahan Rupiah Paksa Harga Elektronik Nasional Naik 5 Persen

Pelemahan Rupiah Paksa Harga Elektronik Nasional Naik 5 Persen
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Paksa Harga Elektronik Nasional Naik 5 Persen.

Sektor industri elektronik nasional mulai menyesuaikan harga jual produk akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menyentuh level Rp 17.529 pada Rabu (13/5/2026). Kenaikan harga sekitar 2 hingga 5 persen ini dilaporkan melanda produk televisi hingga pendingin ruangan (AC) di pasar domestik.

Data Bloomberg yang dilansir dari Money menunjukkan nilai tukar rupiah melemah 5,1 persen secara year to date. Kondisi ini menekan biaya produksi karena mayoritas rantai pasok industri elektronik Indonesia masih bergantung pada komponen impor seperti semikonduktor dan panel display.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik Indonesia (Apkonik), Deny Irawan menyatakan bahwa ketergantungan impor membuat kenaikan biaya pengadaan komponen menjadi otomatis saat kurs bergejolak. Dampak tersebut kini mulai memengaruhi perilaku belanja masyarakat yang cenderung menahan diri.

ÔÇ£Sebagian besar komponen elektronik yang digunakan industri dalam negeri, seperti semikonduktor, IC, panel display, sensor, kapasitor, hingga beberapa bahan baku manufaktur masih bergantung pada impor,ÔÇØ ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.

Penyesuaian harga di tingkat konsumen tidak selalu bersifat instan karena produsen berupaya menjaga daya beli melalui strategi efisiensi. Namun, stok barang lama yang terbatas membuat kenaikan harga sulit dihindari dalam jangka panjang.

ÔÇ£Banyak pelaku industri masih memiliki stok impor dengan kurs lama, sehingga kenaikan harga biasanya tertahan sementara. Produsen juga berupaya melakukan efisiensi agar kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen,ÔÇØ ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (14/5/2026), harga produk elektronik di sentra perdagangan Jakarta telah mengalami koreksi. Laporan dari distributor dan ritel menunjukkan lonjakan biaya operasional mulai dialihkan ke harga jual produk jadi.

ÔÇ£Di sentra perdagangan elektronik Jakarta, harga produk seperti televisi dan AC dilaporkan sudah naik sekitar 2 persen sampai 5 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya biaya impor komponen dan barang jadi yang masih menggunakan dolar AS,ÔÇØ ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.

Fenomena ini turut memicu penurunan volume penjualan di sejumlah titik ritel karena kecepatan perubahan harga. Beberapa pedagang melaporkan adanya penurunan omzet yang cukup signifikan dibandingkan periode bulan sebelumnya.

ÔÇ£Beberapa pedagang menyampaikan bahwa konsumen mulai menunda pembelian karena harga berubah cukup cepat dibanding bulan sebelumnya. Bahkan ada laporan penurunan penjualan ritel hingga sekitar 50 persen di beberapa titik perdagangan elektronik,ÔÇØ kata Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.

Sebagai solusi jangka panjang, pihak asosiasi menekankan pentingnya pendalaman struktur industri di dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerentanan industri terhadap fluktuasi mata uang asing.

ÔÇ£Dari sisi asosiasi, kami mendorong penguatan industri komponen dalam negeri dan peningkatan TKDN agar industri elektronik Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang,ÔÇØ tegas Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.

Di pusat elektronik Pasar Glodok, para pedagang mengonfirmasi adanya kenaikan harga fisik pada unit-unit yang dijual. Seorang penjual bernama Tio menyebutkan kenaikan harga AC tipe 1 PK kini mencapai ratusan ribu rupiah.

ÔÇ£Harga AC, terutama tipe 1 PK, sudah naik sekitar Rp 225.000. Contohnya AC merek ÔÇÖSÔÇÖ Low Watt yang sebelumnya dijual sekitar Rp 2,9 juta, kini naik menjadi sekitar Rp 3,12 juta hingga Rp 3,2 juta,ÔÇØ ujar Tio, Penjual.

Kondisi serupa juga terjadi pada kategori produk hiburan seperti televisi. Ryan, seorang penjual TV di lokasi yang sama, melaporkan bahwa kenaikan harga bervariasi tergantung pada model dan spesifikasi perangkat.

ÔÇ£Harga TV saat ini sudah naik sekitar 2 persen hingga 5 persen bulan Mei ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 untuk beberapa model, bahkan ada produk yang mengalami kenaikan signifikan hingga Rp 400.000 sampai Rp 450.000,ÔÇØ ujar Ryan, Penjual.

Selain faktor nilai tukar, kenaikan biaya energi akibat fluktuasi harga minyak dunia dan kenaikan BBM non-subsidi turut mendorong inflasi biaya produksi. Hambatan logistik akibat ketegangan geopolitik global di jalur perdagangan internasional juga menjadi pemicu kenaikan ongkos distribusi barang elektronik.

Artikel terkait

Rekomendasi