Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penguatan pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, pergerakan positif ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global serta kekhawatiran pasar yang meningkat terkait konflik di Selat Hormuz.
Berdasarkan data penutupan BMD, kontrak berjangka CPO untuk Mei 2026 naik sebesar 30 Ringgit Malaysia menjadi 4.380 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak untuk Juni 2026 juga meningkat 28 Ringgit Malaysia hingga mencapai posisi 4.390 Ringgit Malaysia per ton.
Tren kenaikan berlanjut pada kontrak berjangka CPO Juli 2026 yang terkerek 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.420 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak Agustus 2026, harga terpantau naik 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.437 Ringgit Malaysia per ton.
Sesi perdagangan juga mencatat kontrak berjangka CPO September 2026 melesat 21 Ringgit Malaysia menuju 4.449 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak untuk Oktober 2026 menguat sebesar 17 Ringgit Malaysia menjadi 4.465 Ringgit Malaysia per ton.
Data dari Tradingview menunjukkan bahwa peningkatan harga CPO ini ditopang kuat oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melesat lebih dari 3%. Kenaikan harga minyak bumi terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis, sehingga memicu kekhawatiran atas jalannya perundingan damai di Selat Hormuz.
Melonjaknya harga minyak mentah secara langsung membuat CPO menjadi pilihan yang lebih bernilai sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Meski demikian, CPO secara keseluruhan masih membukukan pelemahan mingguan sebesar 1,95% yang menjadi penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Sepanjang pekan ini, pasar masih dibayangi sejumlah sentimen negatif. Para pelaku pasar menyoroti masih lemahnya permintaan dari pasar-pasar utama, penurunan harga minyak nabati pesaing, hingga ketidakpastian seputar kebijakan biodiesel di Indonesia.
Seorang trader di Kuala Lumpur menyebutkan bahwa bertahannya harga minyak mentah dunia di atas level US$ 100 per barel menjadi pemicu utama kenaikan CPO pada hari Jumat. Kondisi ini kemudian membangkitkan sentimen bullish di pasar perdagangan Asia.
Di pasar komoditas pesaing, kontrak minyak kedelai aktif di Dalian melemah 1,33%, sementara kontrak minyak sawit Dalian turun 0,63%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) merangkak naik sebesar 0,41%.
Fluktuasi harga CPO biasanya berjalan selaras dengan pergerakan minyak nabati lainnya karena adanya persaingan ketat dalam memperebutkan pasar minyak nabati global. Di sisi lain, survei kargo menunjukkan volume ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-15 Mei mengalami penurunan antara 1,6% hingga 16,5% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, pergerakan nilai tukar menunjukkan mata uang ringgit Malaysia melemah sebesar 0,43% terhadap dolar AS. Pelemahan nilai tukar ini memberikan dampak positif bagi para pembeli luar negeri karena membuat harga CPO menjadi relatif lebih murah saat ditransaksikan dengan mata uang asing.