Harga Bitcoin Sempat Tembus US$78.000 Sebelum Turun di Bawah US$77.000

Harga Bitcoin Sempat Tembus US$78.000 Sebelum Turun di Bawah US$77.000
Foto: Ilustrasi Harga Bitcoin Sempat Tembus US$78.000 Sebelum Turun di Bawah US$77.000.

Harga Bitcoin (BTC) sempat melonjak tajam hingga melewati angka US$78.000 setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Namun, seperti dikutip dari Investortrust, aset kripto ini kembali bergerak turun pada perdagangan berikutnya akibat munculnya aksi menghindari risiko (risk off) di pasar global.

Lonjakan nilai Bitcoin terjadi pasca pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran selama masa gencatan senjata. Keputusan tersebut memicu optimisme pelaku pasar dan mendorong harga Bitcoin menyentuh titik tertinggi harian di kisaran US$78.348, yang menjadi level tertinggi sejak awal Februari 2026. Dalam periode 24 jam, aset digital ini mencatat pertumbuhan sekitar 4,1% dengan total kapitalisasi pasar mendekati US$1,56 triliun.

Tren penguatan ini juga mendapat dorongan dari berkurangnya kekhawatiran terhadap inflasi energi seiring merosotnya harga minyak mentah dunia. Minyak Brent dilaporkan turun dari kisaran US$100 per barel ke bawah level US$89, sementara WTI melemah menuju kisaran US$83 per barel. Situasi ini turut memicu reli di pasar saham global, termasuk indeks S&P 500 yang berhasil mencetak rekor baru, meskipun momentum positif tersebut tidak bertahan lama.

Pada perdagangan Sabtu, 18 April 2026 pagi, Bitcoin justru mengalami tekanan jual yang cukup besar hingga terhempas ke bawah level psikologis US$77.000. Aset kripto tersebut bahkan sempat menyentuh titik terendah harian pada harga US$76.624. Pergerakan ini menandakan adanya pergeseran sentimen pasar jangka pendek, setelah sebelumnya Bitcoin mampu diperdagangkan secara stabil di atas level US$80.000.

Koreksi harga ini dipicu oleh sikap waspada para investor terhadap kondisi makroekonomi global, terutama kecemasan mengenai perkembangan ekonomi Amerika Serikat serta dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya stabil. Hubungan timbal balik antara Bitcoin dan aset berisiko lainnya juga terlihat semakin erat, sehingga fluktuasi di pasar saham ikut memengaruhi pergerakan harga kripto.

Tingginya volatilitas ini menyebabkan gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, total likuidasi di pasar kripto secara keseluruhan menembus angka lebih dari US$810 juta, dengan kerugian terbesar dialami oleh para pemilik posisi short. Khusus untuk Bitcoin, nilai likuidasi posisi short mencapai ratusan juta dolar yang mencerminkan tekanan sangat ekstrem di pasar.

Dari sisi teknikal, level harga US$77.000 kini menjadi area krusial yang dipantau ketat oleh para pelaku pasar. Jika Bitcoin tidak mampu kembali bertahan di atas level tersebut, peluang penurunan lebih lanjut menuju kisaran US$74.000 hingga US$75.000 akan terbuka lebar. Sebaliknya, Bitcoin membutuhkan pemulihan hingga ke atas level US$80.000 untuk membangun kembali momentum tren naik (bullish).

Di tengah tekanan harga jangka pendek, fundamental dari jaringan Bitcoin dilaporkan masih berada dalam kondisi yang stabil. Aktivitas transaksi di dalam jaringan serta hash rate terpantau tetap kuat. Meski demikian, arah pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan dinamika geopolitik dan sentimen makro ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi