Harga Bitcoin Naik Dekati US$79.500 Dipicu Arus Masuk ETF

Harga Bitcoin Naik Dekati US$79.500 Dipicu Arus Masuk ETF
Foto: Ilustrasi Harga Bitcoin Naik Dekati US$79.500 Dipicu Arus Masuk ETF.

Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan penguatan signifikan hingga mendekati level US$79.500 pada Rabu (22/4/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami koreksi ke kisaran US$74.000 pada awal pekan.

Seperti dilansir dari Investortrust, angka tersebut menjadi level tertinggi yang dicapai sejak akhir Januari lalu, meskipun level psikologis sebesar US$80.000 masih belum berhasil ditembus.

Namun, pada perdagangan Jumat (24/4/2026), BTC kembali mengalami penurunan sebesar 0,91% dalam kurun waktu 24 jam terakhir, yang membuat harganya melandai ke tingkat US$78.061.

Sektor institusional menjadi motor utama penguatan ini melalui akumulasi produk spot Bitcoin ETF yang mencapai sekitar US$250,22 juta dalam sepekan, dengan total akumulasi dana kini menyentuh US$57,95 miIiar.

Menariknya, lonjakan harga ini terjadi saat tensi geopolitik meningkat setelah Iran menolak memperpanjang negosiasi dengan Amerika Serikat terkait kesepakatan gencatan senjata.

Wakil Presiden INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini merefleksikan perubahan struktural pasar yang semakin didominasi oleh partisipasi dari para investor institusional.

"Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF. Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi," ujar Antony dalam siaran pers, Kamis (23/4/2026).

Faktor makroekonomi dari kebijakan moneter bank sentral AS turut membayangi pasar, di mana sikap independen The Fed dalam menjaga stabilitas menciptakan kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset berisiko akibat inflasi yang belum stabil.

Di sisi lain, pergerakan harga yang agresif ini dipicu oleh fenomena short squeeze di pasar derivatif, di mana banyak posisi jual terpaksa ditutup saat harga mulai merangkak naik.

"Bagi kami di INDODAX melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak. Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur," tutup Antony.

Artikel terkait

Rekomendasi