Harga Bitcoin Melemah ke Level US$ 79.637 Akibat Risiko Geopolitik

Harga Bitcoin Melemah ke Level US$ 79.637 Akibat Risiko Geopolitik
Foto: Ilustrasi Harga Bitcoin Melemah ke Level US$ 79.637 Akibat Risiko Geopolitik.

Nilai tukar Bitcoin mengalami tekanan hingga menyentuh angka US$ 79.637,54 atau sekitar Rp 1,38 miliar pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Penurunan sebesar 2,28 persen dalam 24 jam tersebut terjadi menyusul meningkatnya risiko geopolitik global di kawasan Timur Tengah yang memicu aksi jual investor.

Data perdagangan dari Coinmarketcap pada Sabtu (9/5) menunjukkan harga mulai merangkak naik ke posisi US$ 80.358,81, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Pelemahan yang terjadi sebelumnya dipicu oleh sikap Iran yang menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di wilayah tersebut.

Kondisi pasar diperburuk oleh likuidasi posisi long di pasar derivatif yang mencapai US$ 97,53 juta dalam sehari. Selain itu, instrumen ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatatkan arus keluar dana bersih atau net outflow sebesar US$ 268,5 juta pada periode yang sama.

"Penurunan Bitcoin ke area US$79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto," ujar Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur.

Pakar menilai tekanan jual juga berasal dari aspek teknikal akibat penggunaan leverage yang terlalu tinggi oleh para pelaku pasar. Hal ini menciptakan efek berantai yang mempercepat penurunan harga saat terjadi koreksi kecil.

"Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual," jelas Fyqieh Fachrur.

Analis menetapkan zona krusial pada rentang US$ 78.500 hingga US$ 78.000 untuk menjaga peluang kenaikan kembali ke level US$ 82.800. Jika batas bawah tersebut ditembus, aset kripto ini berisiko terkoreksi lebih dalam menuju angka US$ 76.300 atau sekitar Rp 1,32 miliar.

"Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300," jelas Fyqieh Fachrur.

Meskipun ada tekanan jangka pendek, aliran dana institusional secara kumulatif sejak 2024 telah mencapai US$ 58,5 miliar dengan total aset kelolaan sebesar US$ 102 miliar. BlackRock masih memegang sekitar 812.000 BTC, sementara Morgan Stanley's MSBT berhasil menarik US$ 163 juta dalam enam hari pertama peluncurannya.

Sentimen positif lainnya datang dari penurunan cadangan Bitcoin di bursa ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Pasar saat ini menantikan agenda pemungutan suara Senat AS mengenai Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang dijadwalkan pada Juni 2026.

"Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global," pungkas Fyqieh Fachrur.

Artikel terkait

Rekomendasi