Harga Bitcoin Melemah Akibat Gagal Tembus Rata-Rata Pergerakan Utama

Harga Bitcoin Melemah Akibat Gagal Tembus Rata-Rata Pergerakan Utama
Foto: Ilustrasi Harga Bitcoin Melemah Akibat Gagal Tembus Rata-Rata Pergerakan Utama.

Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami penurunan setelah tidak mampu mempertahankan posisi di atas rata-rata pergerakan utama pada kisaran US$83.000. Kegagalan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi terjadinya koreksi tajam yang lebih mendalam.

Meskipun demikian, lembaga riset kripto K33 Research melihat adanya perbedaan pola pergerakan pada siklus kali ini. Fase penurunan sekarang dinilai tidak sama dengan tren bearish besar yang pernah terjadi pada tahun 2014, 2018, dan 2022.

Berdasarkan data Coinmarketcap yang dikutip dari Investortrust, Rabu (20/5/2026) pukul 06.10 WIB, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar ini berada di level US$76.635. Nilai tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,51% dalam jangka waktu 24 jam serta melemah hingga 4,97% selama sepekan terakhir.

Kepala Riset K33, Vetle Lunde, dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa reli pemulihan Bitcoin saat ini berjalan dengan tempo yang lebih lambat. Menurutnya, pasar sekarang belum memperlihatkan tanda-tanda euforia yang berlebihan seperti yang terjadi pada siklus-siklus sebelumnya.

Pada masa bearish terdahulu, harga Bitcoin sering kali melonjak secara agresif hingga mendekati rata-rata pergerakan 200 hari. Lonjakan tajam tersebut biasanya dipicu oleh tingginya leverage serta maraknya posisi bullish yang bersifat spekulatif di kalangan investor.

Kondisi agresif seperti itu dinilai belum tampak pada situasi pasar saat ini. Lambatnya pergerakan harga justru mengindikasikan dinamika yang berbeda.

"Pergerakan lambat saat ini belum menghasilkan dinamika seperti itu. Data derivatif justru menunjukkan sentimen yang sangat pesimistis," tulis Lunde dilansir dari Coindesk, Rabu (20/5/2026).

Lembaga riset K33 mengungkapkan bahwa rata-rata tingkat pendanaan (funding rate) Bitcoin selama 30 hari terus bertahan di area negatif selama 81 hari berturut-turut. Durasi ini mendekati rekor terpanjang dalam sejarah pergerakan aset kripto tersebut.

Indikator negatif yang bertahan lama ini menjadi cerminan bahwa sebagian besar pelaku pasar masih bersikap bearish. Sentimen ini tetap membayangi meskipun harga Bitcoin sebenarnya telah bangkit dari level terendah bulan Februari yang berada di kisaran US$60.000.

Sikap kehati-hatian yang ekstrem dari para investor juga terkonfirmasi melalui indikator lain. Basis tahunan untuk kontrak berjangka Bitcoin di bursa CME dilaporkan sempat merosot hingga di bawah level 2,5%.

Walaupun indikator menunjukkan kehati-hatian, K33 tetap memberikan peringatan mengenai risiko volatilitas yang masih tinggi. Jumlah minat terbuka (open interest) pada sektor derivatif Bitcoin terpantau tetap tinggi, sehingga penurunan harga lebih lanjut berisiko memicu tekanan jual yang masif.

Tekanan di pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan dana institusional melalui ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Dalam kurun waktu lima hari terakhir, arus modal keluar dari instrumen tersebut menembus angka US$1,6 miliar.

Aksi keluar modal ini terjadi bersamaan dengan tertahannya laju harga di dekat area US$83.000. Wilayah harga tersebut dianalisis menjadi titik impas (break-even harga) rata-rata bagi mayoritas pemegang investasi ETF Bitcoin.

Prospek Siklus Pasar Kripto 2026

Secara historis, para investor memiliki kecenderungan untuk melakukan aksi jual dengan volume yang lebih agresif saat harga kembali menyentuh titik impas setelah melewati fase penurunan yang panjang.

Namun, indikator internal yang dimiliki K33 justru memperlihatkan pola yang menyerupai fase penguatan pasar pada periode Maret hingga April 2025. Kala itu, Bitcoin sempat tertekan oleh sentimen kebijakan tarif Presiden Donald Trump sebelum akhirnya melesat mencetak rekor tertinggi baru.

Melalui pertimbangan data tersebut, K33 tetap memegang proyeksi awal mereka mengenai batas bawah harga. Penurunan harga Bitcoin hingga menyentuh US$60.000 pada Februari lalu diperkirakan menjadi titik koreksi paling dalam untuk siklus yang berjalan sekarang.

"Pasar bullish yang kurang agresif pada 2025 menciptakan fondasi untuk pasar bearish yang lebih moderat pada 2026," tulis Lunde.

Artikel terkait

Rekomendasi