Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga di bawah level psikologis US$ 80.000 pada Kamis (14/5/2026) pagi akibat tekanan aksi jual kosong atau short dalam jumlah besar. Sentimen negatif ini dipicu oleh aktivitas whale di platform Hyperliquid dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Nilai kapitalisasi pasar kripto global menyusut 1,35 persen menjadi US$ 2,65 triliun sebagaimana dilansir dari Investor Daily melalui data CoinMarketCap pukul 06.30 WIB. Bitcoin terkoreksi 1,52 persen ke posisi US$ 79.378 per koin atau setara Rp1,39 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.520.
Pelemahan ini juga merambah ke aset digital lainnya, di mana indeks CoinDesk 20 mencatat penurunan sebesar 1,39 persen. Ethereum terpangkas 0,9 persen menjadi US$ 2.260, Solana anjlok 3,63 persen ke harga US$ 91,18, sementara XRP mengalami koreksi 0,93 persen ke level US$ 1,42.
Di sisi lain, beberapa aset justru mencatatkan pertumbuhan positif di tengah pelemahan pasar secara umum. Binance (BNB) menguat 1,22 persen ke posisi US$ 672, sedangkan Dogecoin (DOGE) mengalami kenaikan sebesar 3,29 persen menjadi US$ 0,11.
Tekanan pasar dipicu oleh aksi short jumbo senilai US$ 70 juta atau sekitar Rp1,1 triliun yang dilakukan oleh alamat whale 0x8def992dae di platform Hyperliquid. Akun tersebut diduga kuat milik Loracle, yang merupakan salah satu pengembang awal dalam ekosistem Hyperliquid.
Berdasarkan data Hyperdash, investor besar tersebut membuka posisi short terhadap token HYPE senilai US$ 49 juta dalam sepekan terakhir. Selain itu, terdapat posisi bearish pada Bitcoin sebesar US$ 12,5 juta serta taruhan serupa pada indeks saham Nasdaq-100 dan aset teknologi lainnya.
Faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel akibat konflik Iran turut memperkeruh suasana pasar. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa reli panjang Bitcoin mulai kehilangan tenaga di tengah ancaman inflasi global yang semakin memanas.
Analis melihat pergerakan whale tersebut sebagai strategi algoritma jangka pendek dan bukan perubahan fundamental pasar secara permanen. Meskipun pasar tertekan, inflasi tinggi dalam jangka panjang justru berpotensi menjadi katalis positif bagi Bitcoin sebagai aset alternatif di luar obligasi pemerintah.