Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya tren kenaikan harga beras yang meluas di seluruh lini perdagangan dari tingkat penggilingan hingga konsumen akhir pada April 2026. Lonjakan harga komoditas pokok ini terjadi berbarengan dengan percepatan laju inflasi tahunan nasional yang mencapai angka 2,42%.
Peningkatan biaya pangan ini memberikan tekanan signifikan terhadap daya beli masyarakat, mengingat besarnya porsi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi beras. Berdasarkan data yang dilansir dari Ekonomi, fluktuasi harga ini mencakup rata-rata nasional dari berbagai kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa harga beras di level penggilingan mengalami pertumbuhan sebesar 0,50% dibandingkan Maret 2026. Jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu, kenaikan di tingkat ini sudah menyentuh angka 7,47%.
ÔÇ£Rata-rata harga beras di penggilingan pada April 2026 secara total naik 0,50% month-to-month dan naik 7,47% year-on-year,ÔÇØ kata Ateng, dalam rilis data BPS Mei 2026, Senin (4/5/2026).
Kenaikan harga tersebut juga merambat ke sektor perdagangan besar atau grosir dengan catatan inflasi bulanan sebesar 0,39%. Sementara itu, pada tingkat eceran, masyarakat harus menghadapi kenaikan yang lebih tinggi yakni mencapai 0,58% secara bulanan dan 4,36% secara tahunan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga di pasar belum sepenuhnya terkendali meskipun pemerintah telah mengupayakan intervensi melalui operasi pasar dan penyaluran cadangan beras pemerintah. Kelompok makanan, minuman, dan perawatan pribadi menjadi motor utama yang mendorong kenaikan inflasi tahunan April 2026 menjadi 2,42%.
Secara historis, tekanan inflasi nasional sempat mencapai puncaknya pada kisaran 3,48% dalam rentang tahun 2025 hingga awal 2026 sebelum akhirnya melandai. Namun, data terkini mengindikasikan adanya pergeseran sumber inflasi yang kini lebih didominasi oleh konsumsi rumah tangga, terutama pada komponen bahan pangan pokok.