Sejumlah restoran cepat saji di Amerika Serikat mengalami penurunan volume penjualan sejak Maret 2026 akibat lonjakan harga bensin nasional yang menembus angka US$ 4,50 per galon. Fenomena ini terjadi sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dengan Iran yang membebani daya beli masyarakat.
Dilansir dari Detik Finance, survei dari lembaga Numerator menunjukkan bahwa sekitar 43 persen responden memilih untuk mengurangi frekuensi makan di luar rumah. Banyak konsumen kini beralih memasak sendiri atau mencari alternatif makanan dengan biaya yang lebih terjangkau sejak tren kenaikan harga bahan bakar tersebut dimulai.
CEO Applebee's dan Dine Brands, John Peyton, mengonfirmasi adanya kelesuan bisnis pada periode Maret dan April dibandingkan awal tahun 2026. Ia mengidentifikasi adanya perubahan perilaku pada konsumen yang sangat memperhatikan nilai ekonomi produk di tengah ketidakpastian situasi finansial saat ini.
"Bulan Maret dan April lebih lesu dibandingkan Januari dan Februari, terutama dengan konsumen yang berorientasi pada nilai yang kami lihat lebih sering tinggal di rumah atau makan di tempat alternatif dengan biaya lebih rendah, dan kami mengaitkan hal itu dengan harga bensin secara khusus dan perekonomian secara umum," ujar John Peyton, CEO Applebee's dan Dine Brands.
Pihak manajemen perusahaan telah memprediksi bahwa ambang batas harga bensin tertentu akan menjadi titik balik bagi minat kunjung pelanggan mereka ke restoran. Langkah antisipasi pun disiapkan untuk menjaga loyalitas tamu di tengah tekanan inflasi yang terjadi secara masif.
"Kami tahu bahwa ketika harga bensin mulai melewati US$ 3,50, itu akan mempengaruhi tamu kami," sambung John Peyton.
Sebagai strategi untuk menarik kembali minat pelanggan pada hari Senin (11/5/2026), Applebee's meluncurkan paket promo makanan sepuasnya dengan harga US$ 15,99. Langkah serupa juga diperhatikan oleh pesaing mereka, Chipotle, yang sempat mencatatkan penurunan tren penjualan pada Maret meski kini dilaporkan mulai merangkak naik.
"Pada bulan Maret, terjadi sedikit penurunan tren penjualan kami tepat di sekitar waktu dimulainya konflik Iran," kata Adam Rymer, CFO Chipotle.
Dampak ekonomi ini juga disoroti oleh CEO McDonald's, Chris Kempczinski, yang memberikan pandangannya mengenai tekanan yang dihadapi oleh segmen pelanggan tertentu. Menurutnya, biaya hidup yang tinggi untuk kebutuhan pokok dan sewa tempat tinggal membuat lonjakan harga bensin menjadi beban tambahan yang berat.
"Jelas, ketika harga bensin tinggi, yang merupakan isu utama yang menurut saya sedang kita lihat di media saat ini, harga bensin, inflasi yang menyertainya, itu akan berdampak tidak proporsional pada konsumen berpenghasilan rendah," jelas Chris Kempczinski, CEO McDonald's.
Meskipun menghadapi tantangan makroekonomi, McDonald's tetap berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 3,7 persen pada kuartal pertama tahun ini. Capaian tersebut didorong oleh kombinasi strategi promosi menu hemat bagi konsumen kelas bawah serta ketersediaan paket premium untuk pelanggan berpendapatan tinggi.