Kenaikan Harga BBM Diesel Picu Perlambatan Pasar Mobil SUV Bekas

Kenaikan Harga BBM Diesel Picu Perlambatan Pasar Mobil SUV Bekas
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga BBM Diesel Picu Perlambatan Pasar Mobil SUV Bekas.

Kenaikan harga bahan bakar minyak jenis solar nonsubsidi berdampak pada kelesuan pasar mobil bekas bermesin diesel di segmen SUV premium, seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport pada Selasa (12/5/2026). Para pedagang di wilayah Depok dan sekitarnya kini lebih selektif dalam menambah stok unit akibat melambatnya permintaan konsumen.

Dilansir dari Otomotif, penurunan aktivitas pasar ini ditandai dengan minimnya penawaran dalam proses lelang kendaraan dan keengganan sejumlah pemilik diler untuk mengambil unit diesel harga tinggi. Singgih, pedagang dari Willies Mobil di Depok, menyebutkan bahwa lesunya penjualan terlihat jelas pada platform perdagangan mobil.

"Pasti malas. Bukan cuma saya doang, saya yakin yang lain juga pasti malas. Saya sendiri kan terkoneksi dengan Carsome. Penjualan mobil-mobil besar yang saya lihat juga mulai lesu, bahkan tidak ada yang memberikan penawaran," ujar Singgih, Pedagang Willies Mobil.

Kerja sama antara platform digital dengan diler fisik yang biasanya berjalan lancar kini terhambat karena rendahnya minat pedagang untuk menyerap unit baru ke dalam inventaris mereka.

"Kan istilahnya kami kerja sama, dari Carsome ke showroom, lalu Carsome ke konsumen lewat aplikasinya. Nah, pedagang sekarang juga malas ambil unit," kata Singgih, Pedagang Willies Mobil.

Singgih memaparkan bukti nyata kelesuan ini melalui unit Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2022 yang gagal terjual di pelelangan meski harganya terus dikurangi.

"Contohnya sekarang ada Fortuner VRZ diesel 2022 yang lagi dilelang. Showroom sebelah pasang Fortuner diesel 2021 buka harga Rp 345 juta," ujar Singgih, Pedagang Willies Mobil.

Padahal, kendaraan yang sedang dilelang tersebut memiliki usia lebih muda dan catatan jarak tempuh yang masih rendah.

"Padahal yang dilelang ini tahun lebih muda. Kalau tidak salah terakhir buka harga Rp 313 juta, kilometernya juga baru 25.000 km," ujar Singgih, Pedagang Willies Mobil.

Hingga saat ini, unit tersebut tetap tidak dilirik oleh pelaku usaha meskipun harga pembukaannya sudah merosot jauh dari angka semula.

"Pedagang juga tidak ada yang maju. Tidak ada tawaran sama sekali, padahal mobil itu sudah sekitar seminggu di lelang. Awalnya buka di Rp 335 juta, lalu karena enggak ada yang nawar, harganya terus turun," ujar Singgih, Pedagang Willies Mobil.

Zidan dari Salman Auto Mobilindo turut mengonfirmasi kondisi pasar yang tidak menentu tersebut, yang menyebabkan banyak calon pembeli memilih untuk menunda transaksi.

"Buat apa kalau yang jual banyak, tapi enggak ada yang beli? Kami kan cari mobil yang di pasaran masih banyak peminatnya," ujar Zidan, Pedagang Salman Auto Mobilindo.

Kekhawatiran mengenai stok yang mengendap lama di diler menjadi alasan utama para pedagang menjadi sangat waspada.

"Sekarang orang-orang mulai panik. Kalau nanti mobil itu enggak ada pembelinya, buat apa kami beli unitnya," kata Zidan, Pedagang Salman Auto Mobilindo.

Rudy dari Hapsari Motor menambahkan bahwa sebagian besar pelaku bisnis saat ini memilih untuk mengamati perkembangan pasar hingga situasi kembali stabil sebelum kembali membeli stok mobil diesel kelas atas.

"Saat solar Dex (Dexlite dan Pertamina Dex) naik, itu kita sebagian besar diler belum ada yang berani ambil mobil solar, terutama kelas premium seperti Pajero Sport di atas 2016 dan Toyota Fortuner," ujar Rudy, Pedagang Hapsari Motor.

Risiko kerugian akibat perbedaan harga yang signifikan menjadi pertimbangan krusial bagi para diler dalam mengambil keputusan stok.

"Kita semua istilahnya belum ada yang berani ambil, kalau ada ketimpangan harganya luar biasa," kata Rudy, Pedagang Hapsari Motor.

Artikel terkait

Rekomendasi