Biaya operasional kendaraan bermesin diesel mengalami kenaikan signifikan menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di berbagai SPBU pada Mei 2026. Berdasarkan laporan Otomotif, beberapa jenis bahan bakar diesel nonsubsidi kini dibanderol dengan harga yang hampir menyentuh angka Rp 31.000 per liter.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada produk Shell V-Power Diesel yang per 10 Mei 2026 tercatat berada di level Rp 30.890 per liter. Angka ini menunjukkan lompatan besar jika dibandingkan dengan periode Maret 2026, di mana harga bahan bakar tersebut masih berada pada kisaran Rp 14.620 per liter.
Kondisi ini memberikan dampak langsung bagi pengguna kendaraan MPV bermesin 2.400 cc turbo diesel, seperti Toyota Kijang Innova Reborn Diesel. Dengan kapasitas tangki mencapai 55 liter, pemilik kendaraan jenis ini kini harus mengalokasikan anggaran yang jauh lebih besar untuk sekali pengisian penuh tangki bahan bakar.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa untuk pengisian penuh menggunakan Shell V-Power Diesel atau Diesel Primus Plus milik Vivo Energy Indonesia yang harganya setara, konsumen memerlukan dana sekitar Rp 1.698.950. Sementara itu, BP Indonesia melakukan penyesuaian harga BP Ultimate Diesel menjadi Rp 29.890 per liter sejak 8 Mei 2026, sehingga biaya full tank tercatat sebesar Rp 1.643.950.
Lini produk solar nonsubsidi milik Pertamina juga tidak luput dari kenaikan harga terbaru. Dexlite saat ini dipasarkan dengan harga Rp 23.600 per liter dari harga sebelumnya Rp 14.200, sedangkan Pertamina Dex naik menjadi Rp 23.900 per liter dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 14.500 per liter.
| Jenis BBM | Harga per Liter | Estimasi Biaya Full Tank |
|---|---|---|
| Shell V-Power Diesel | Rp 30.890 | Rp 1.698.950 |
| BP Ultimate Diesel | Rp 29.890 | Rp 1.643.950 |
| Vivo Diesel Primus Plus | Rp 30.890 | Rp 1.698.950 |
| Dexlite | Rp 23.600 | Rp 1.298.000 |
| Pertamina Dex | Rp 23.900 | Rp 1.314.500 |
Situasi melonjaknya harga BBM diesel ini diprediksi akan terus memberatkan para pemilik kendaraan diesel nonsubsidi. Hal ini terutama dirasakan oleh pengguna yang memiliki intensitas mobilitas harian tinggi atau mereka yang sering melakukan perjalanan antar kota jarak jauh secara rutin.