Harga Alumunium Global Melonjak ADMR Targetkan Penjualan 370 Ribu Ton

Harga Alumunium Global Melonjak ADMR Targetkan Penjualan 370 Ribu Ton
Foto: Ilustrasi Harga Alumunium Global Melonjak ADMR Targetkan Penjualan 370 Ribu Ton.

Harga alumunium dunia mengalami lonjakan signifikan hingga melewati angka 3.500 dolar AS per metrik ton yang menjadi level tertinggi sepanjang masa. Seperti diberitakan oleh Investortrust, kenaikan ini dipicu oleh aksi blokade di Selat Hormuz yang melumpuhkan sekitar 10 persen dari total produksi alumunium primer global.

Kondisi kelangkaan pasokan di pasar internasional tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Perusahaan pertambangan dan logam besar di Indonesia ini mengandalkan fasilitas smelter barunya yang berlokasi di Kalimantan Utara untuk mengisi kekosongan suplai.

Emiten berkode saham ADMR tersebut menetapkan target volume penjualan sebesar 370.000 ton untuk tahun 2026. Sementara itu, kapasitas terpasang Tahap 1 yang mencapai 500.000 ton per tahun atau per annum (tpa) diproyeksikan dapat beroperasi secara penuh pada Oktober mendatang.

Hambatan logistik yang dihadapi oleh para produsen di Timur Tengah membuat sektor manufaktur global harus mencari sumber alternatif. ADMR berada dalam posisi strategis karena berhasil mengoperasikan kapasitas peleburan besarnya tepat sebelum krisis geopolitik mengubah peta harga komoditas global.

Letak geografis yang terisolasi dari konflik membuat ADMR mampu menawarkan pasokan yang aman bagi pasar Asia. Perusahaan bahkan sering kali mendapatkan harga premium di atas nilai patokan London Metal Exchange (LME) yang saat ini sudah mencetak rekor tinggi.

Langkah strategis ini sekaligus menandai transformasi ADMR yang semula merupakan pemain batu bara tradisional menjadi raksasa mineral hijau. Sektor baru ini menghasilkan margin keuntungan yang saat ini dinilai belum tertandingi di industri sejenis.

Proyeksi Keuangan dan Target Pasar ADMR

Data pasar menunjukkan bahwa posisi keuangan perusahaan semakin menguat seiring dengan reli harga komoditas logam tersebut. Di bursa saham, ADMR diperdagangkan di sekitar level Rp1.940 atau setara 0,12 dolar AS, dengan target harga dari analis mencapai Rp2.700 atau sekitar 0,17 dolar AS.

Perusahaan sempat mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp4,5 triliun atau sekitar 285 juta dolar AS pada tahun 2025 akibat fase investasi yang masif. Kendati demikian, lonjakan harga yang terjadi pada awal 2026 diperkirakan akan memicu peningkatan pendapatan yang sangat besar.

Sejumlah analis dari rumah investasi terkemuka memprediksi adanya pertumbuhan EBITDA yang luar biasa untuk sisa tahun fiskal ini. Kombinasi antara biaya operasional yang rendah di Indonesia dan rekor harga tertinggi menjadi pendorong utama bagi transformasi perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Artikel terkait

Rekomendasi