Biaya produksi berbagai sektor manufaktur global melonjak tajam setelah harga aluminium mencatatkan kenaikan signifikan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Peningkatan harga komoditas ini dilaporkan telah mencekik operasional perusahaan mulai dari industri otomotif hingga produsen minuman kaleng.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME) yang dilansir dari Detik Finance pada Rabu (6/5/2026), harga aluminium telah melambung lebih dari 13 persen sejak serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Secara akumulatif, harga komoditas ini telah naik sekitar 19 persen sepanjang tahun 2026 dan menyentuh level tertingginya sejak tahun 2022.
Analis dari Bernstein, Bob Brackett, menilai kenaikan harga tersebut dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi vital bagi 7 persen pasokan aluminium dunia dari Timur Tengah. Selain gangguan logistik, kenaikan harga energi seperti gas alam dan batu bara akibat perang turut mengerek biaya produksi aluminium yang sangat haus energi.
"Harga aluminium naik seiring dengan biaya input. Ada risiko kenaikan harga yang berdampak positif pada aluminium, bukan hanya karena terganggunya rantai pasokan, tetapi juga karena terganggunya sumber energi," kata Brackett dalam sebuah memo.
Dampak ekonomi dari lonjakan harga ini sangat dirasakan oleh produsen otomotif raksasa asal Amerika Serikat, Ford. Kepala Bagian Keuangan Ford, Sherry House, mengungkapkan bahwa konflik bersenjata tersebut telah mengganggu proyeksi keterjangkauan material untuk komponen utama truk pikap F-150.
Pihak perusahaan memperkirakan hambatan biaya akibat kenaikan komoditas ini mencapai lebih dari US$ 2 miliar, atau meningkat dua kali lipat dari estimasi awal. House menekankan bahwa industri global sebenarnya sudah menghadapi tantangan ketersediaan material sebelum konflik pecah.
"Terkait baja dan aluminium, bahkan sebelum situasi di Timur Tengah dimulai, kita sudah melihat kekurangan di industri global," jelasnya.
Kondisi sulit juga menimpa industri minuman, termasuk produsen bir Molson Coors yang menaungi merek Coors Light dan Miller Lite. Kenaikan harga pasokan aluminium di wilayah Midwest AS menyebabkan pembengkakan biaya pokok penjualan sebesar US$ 30 juta pada kuartal pertama jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun perusahaan tersebut telah menerapkan penggunaan kaleng aluminium daur ulang selama enam dekade terakhir, manajemen tetap mengantisipasi adanya inflasi komoditas yang lebih lanjut pada kuartal ini. Pergerakan harga di pasar global kini sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.