Halodoc Perluas Ekosistem Kesehatan Digital Melalui Inovasi WhatsApp

Halodoc Perluas Ekosistem Kesehatan Digital Melalui Inovasi WhatsApp
Foto: Ilustrasi Halodoc Perluas Ekosistem Kesehatan Digital Melalui Inovasi WhatsApp.

Platform layanan kesehatan Halodoc memperluas jangkauan ekosistem digitalnya lewat peluncuran inovasi Halodoc on WhatsApp dan fitur Family Care di Jakarta pada Senin (25/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rasio dokter dan mempermudah akses obat-obatan bagi masyarakat Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Perusahaan mengintegrasikan teknologi asisten digital HILDA langsung ke dalam aplikasi WhatsApp demi menjangkau estimasi 185 hingga 190 juta pengguna internet di Indonesia. Platform ini menawarkan empat keunggulan utama, termasuk pengiriman obat dalam waktu satu jam dan jaminan keaslian produk tanpa perlu mengunduh aplikasi.

Ekosistem kesehatan digital yang dikembangkan sejak April 2016 ini terus bertransformasi menghubungkan pasien, tenaga kesehatan, dan mitra industri. Pada perayaan satu dekade perjalanannya, perusahaan mempertegas komitmen untuk menghadirkan pelayanan yang lebih personal dan proaktif.

"Jadi misi yang di awal kita buat itu memang benar-benar meng-address dua problem itu. Makanya solusinya pertama kali kita launching untuk pembelian obat dan telekonsultasi dengan dokter," ujar Chief Operating Officer Halodoc Alfonsius Timboel.

Alfons menceritakan bahwa pada masa awal peluncuran, sistem konsultasi platform ini masih sangat sederhana dan menggunakan tarif per menit. Masukan dari pasien serta dokter menjadi dasar bagi perusahaan untuk terus melakukan inovasi secara konsisten.

"And waktu itu, kita didirikan karena memang untuk meng-address problem. Karena jumlah dokter di Indonesia itu sangat limited. Akses untuk cari dokter itu juga nggak gampang pada saat itu di Indonesia," sambung Alfons.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa pertumbuhan platform digital ini berorientasi pada penyelesaian kendala di lapangan. Evaluasi berkala terus diterapkan guna menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pengguna yang dinamis.

"Jadi dulu itu memang kita terus berkembang, terus mendengarkan apa feedback dari pasien, apa feedback dari customer, apa feedback dari dokter, sampai kita terus berinovasi," kata Alfons.

Integrasi teknologi asisten digital ke platform pesan instan dipicu oleh tingginya interaksi pengguna pada fitur HILDA yang mencatatkan lebih dari 2 juta sesi sejak tahun 2025. Bersamaan dengan itu, fitur Family Care dirilis untuk membantu para ibu yang menjadi pengelola kesehatan keluarga.

"Hari ini, kami bersyukur dapat melayani jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari konsultasi dokter, pembelian obat, layanan laboratorium, hingga pemantauan kesehatan keluarga. Milestone terbesar kami bukanlah peluncuran produk, melainkan momen-momen ketika teknologi benar-benar membantu kehidupan masyarakat, termasuk saat pandemi COVID-19,"

"Memasuki dekade berikutnya, kami fokus membangun layanan kesehatan yang tidak hanya digital, tetapi semakin proaktif, personal, dan relevan dengan kebutuhan serta kebiasaan masyarakat yang terus berubah seiring berjalannya waktu," ungkap Alfons.

Data internal menunjukkan sebanyak 65 persen pengguna platform merupakan pengelola kesehatan keluarga yang didominasi oleh figur ibu. Kehadiran fitur baru ini diharapkan mempermudah dokumentasi rekam medis seluruh anggota keluarga dalam satu tampilan terintegrasi.

"Misi Halodoc untuk menyederhanakan layanan kesehatan berarti menyederhanakan untuk semua orang dari berbagai lapisan masyarakat. Termasuk mereka yang selalu di depan layar maupun yang lebih nyaman dengan WhatsApp sehari-hari, dari generasi lansia, pekerja harian, hingga para caregiver yang didominasi oleh ibu, yang menjaga kesehatan keluarga," kata Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria.

Fibriyani menambahkan bahwa inovasi teranyar ini dirancang agar dapat diakses di sela-sela aktivitas harian masyarakat. Target utama inovasi ini adalah memberikan kenyamanan tanpa menambah beban baru bagi para pengelola kesehatan utama di rumah tangga.

"Halodoc on Whatsapp dan Family Care dirancang untuk hadir di titik di mana masyarakat sudah berada, sehingga kebutuhan kesehatan keluarga bisa dikelola di sela-sela aktivitas sehari-hari, tanpa memberikan beban tambahan bagi mereka," sambung Fibriyani.

Dari segi standarisasi medis, seluruh pengembangan teknologi kecerdasan buatan dipastikan tetap berada di bawah pengawasan ketat klinis. Langkah pengawasan ini dijalankan oleh Board of Medical Excellence (BoME) untuk menjaga kepatuhan regulasi.

"Halodoc tumbuh bersama tenaga kesehatan sejak hari pertama. Kualitas layanan dan kepatuhan regulasi menjadi standar yang kami bangun sejak awal, dan BoME memastikan setiap inovasi tetap berpijak pada prinsip clinical safety," jelas Chief Medical Officer Halodoc dr Irwan Heriyanto, MARS.

Dr Irwan menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak bertujuan untuk menggantikan peran para tenaga medis manusia. Sebaliknya, adopsi teknologi dioptimalkan untuk memperkuat efisiensi perjalanan medis pasien.

"Tidak ada bagian dari inovasi kami yang dirancang untuk menggantikan peran tenaga kesehatan-sebaliknya, teknologi dan inovasi ini hadir untuk memperkuat layanan yang mereka berikan, dan harapannya dapat mempermudah perjalanan medis, baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan," sambung dr Irwan.

Selain inovasi fitur, penguatan ekosistem juga diwujudkan melalui Halodoc Academy yang telah diikuti oleh lebih dari 123.000 peserta dengan 180 pelatihan terakreditasi Kementerian Kesehatan RI. Platform pembelajaran tersebut kini diintegrasikan ke dalam fitur Learn pada aplikasi dokter untuk mempermudah akses peningkatan kompetensi medis secara terstruktur.

Artikel terkait

Rekomendasi