Nurlela (39), seorang guru berprestasi di SDN 11 Pulo Gebang, meninggal dunia setelah menjadi korban kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4/2026). Insiden tragis tersebut merenggut belasan nyawa, termasuk sang guru kelas II C tersebut.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak sekolah setelah korban sempat menjalani perawatan medis di RSUD Bekasi. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Megapolitan, peristiwa maut ini diduga bermula saat KRL menabrak sebuah taksi di perlintasan sebelum akhirnya melibatkan kereta api jarak jauh.
Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang, Maryati, mengenang almarhumah sebagai pendidik yang sangat berdedikasi dan memiliki inisiatif tinggi dalam memajukan kualitas pembelajaran di sekolah. Penegasan tersebut disampaikan Maryati saat ditemui di lingkungan sekolah pada Kamis (30/4/2026).
"Almarhumah itu adalah guru yang mempunyai potensi sangat tinggi, dedikasi yang sangat tinggi, sangat bertanggung jawab, banyak kegiatan sekolah atas prakarsa beliau," kata Maryati, Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang.
Salah satu kontribusi nyata yang ditinggalkan Nurlela adalah program literasi mingguan yang hingga kini masih terus diterapkan oleh pihak sekolah untuk mengembangkan kreativitas para siswa. Program tersebut dirancang agar pembelajaran menjadi lebih interaktif di luar ruang kelas.
"Kami setiap hari Kamis itu ada yang disebut dengan Kamis Liburan, itu untuk literasi. Jadi kreativitas anak-anak itu kita tampilkan, hanya saja kita per kelas ya," ucap Maryati, Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang.
Maryati menambahkan bahwa inovasi tersebut memungkinkan seluruh siswa untuk menunjukkan bakat mereka secara kolektif di lapangan sekolah. Kepergian Nurlela meninggalkan duka mendalam bagi seluruh warga sekolah, terutama para guru dan murid yang mengenalnya.
"Sehingga setiap hari Kamisnya itu bisa menampilkan kreativitas yang sekaligus pembelajaran itu secara bersama-sama di lapangan," jelas Maryati, Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang.
Pihak sekolah mengaku pertama kali mendengar kabar mengenai kecelakaan tersebut melalui tayangan berita di televisi. Hingga saat ini, suasana duka masih menyelimuti lingkungan SDN 11 Pulo Gebang atas kehilangan rekan kerja yang dikenal sangat baik tersebut.
"Kita melihat (kabar duka) ada teman kita dari TV. Tentu saja murid kita semua, dewan guru sangat-sangat kehilangan beliau dan juga kita memang kondisi masih ya berduka ya," tutur Maryati, Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang.
Nurlela tercatat telah mengabdikan diri di sekolah tersebut sejak tahun 2019. Almarhumah diketahui baru saja menyelesaikan jenjang pendidikan magister (S2) di salah satu universitas di Jakarta sebelum peristiwa nahas itu terjadi.
"Kita doa, dari selasa, Rabu sampai sekarang hari Kamis. Iya, kita berdoa selalu untuk beliau di pagi hari bersama anak-anak," ungkap Maryati, Kepala SD Negeri 11 Pulo Gebang.
Kecelakaan pada Senin malam pukul 20.52 WIB tersebut melibatkan KRL nomor PLB 5568A tujuan Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek rute GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi. Data petugas mencatat total 16 orang meninggal dunia dan 90 pasien lainnya masih mendapatkan perawatan intensif di berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi.