GFI Targetkan Pembiayaan Hijau US$ 500 Juta Per Tahun di Indonesia

GFI Targetkan Pembiayaan Hijau US$ 500 Juta Per Tahun di Indonesia
Foto: Ilustrasi GFI Targetkan Pembiayaan Hijau US$ 500 Juta Per Tahun di Indonesia.

Green Finance Institute (GFI) berupaya mempercepat investasi proyek ramah lingkungan di Indonesia melalui penguatan skema pembiayaan inovatif pada Kamis (14/5), sebagaimana dilansir dari Industri. Organisasi ini menargetkan mobilisasi dana hingga US$ 500 juta per tahun lewat pengembangan skema blended finance dan pembentukan Development Trust Fund.

Target besar ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kesiapan investor swasta dalam mendukung transisi ekonomi rendah karbon. GFI memandang sistem keuangan saat ini masih menghadapi tantangan dalam menyelaraskan ekspektasi kedua belah pihak tersebut.

Managing Director GFI, James Hooton menjelaskan bahwa peran lembaganya sangat krusial dalam mengatasi hambatan komunikasi antara sektor publik dan privat.

"Pemerintah berbicara tentang transisi, sementara sektor swasta melihat transaksi dan risiko. Di situlah peran kami, menjembatani kesenjangan tersebut," ujar James Hooton, Managing Director GFI.

James menekankan bahwa pemenuhan target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan anggaran negara. Partisipasi modal swasta tetap menjadi kunci utama di tengah kendala struktur pembiayaan dan risiko proyek.

Senada dengan hal itu, Direktur GFI Indonesia Poppy Ismalina memaparkan data mengenai keterbatasan pendanaan publik yang saat ini hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan investasi iklim nasional.

"Masalah utamanya adalah proyek hijau masih dianggap berisiko tinggi, terutama karena keterbatasan pemahaman terhadap karakteristik proyek, biaya awal yang besar, serta risiko operasional," ujar Poppy Ismalina, Direktur GFI Indonesia.

Berdasarkan kajian GFI tahun 2023, dana publik hanya mampu memenuhi sekitar 20% hingga 25% kebutuhan investasi, sehingga terdapat celah sekitar 75% hingga 80% yang harus ditutup modal internasional dan swasta. GFI pun mengusulkan pembentukan Development Trust Fund bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) untuk menghimpun dana dari lembaga global.

"Trust fund ini berpotensi menjadi game changer karena memungkinkan pooling dana yang dapat digunakan secara fleksibel untuk berbagai proyek hijau, termasuk menutup gap seperti subsidi bunga dan risiko awal investasi," kata Poppy Ismalina, Direktur GFI Indonesia.

Poppy mencontohkan adanya perbedaan bunga pinjaman komersial sekitar 5% dengan kemampuan bayar proyek energi terbarukan masyarakat yang hanya 3%. Skema baru ini diproyeksikan mampu membiayai proyek dengan nilai US$ 100 juta hingga US$ 300 juta per proyek.

Saat ini, GFI telah berkontribusi dalam perancangan struktur pembiayaan untuk proyek jaringan bus listrik senilai US$ 240 juta dan proyek hidrogen sebesar US$ 95 juta. Selain instrumen dana, GFI juga menginisiasi pembentukan Komite Keuangan Berkelanjutan bersama OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan.

"Dengan koordinasi kebijakan yang lebih kuat, diharapkan kesenjangan pembiayaan dapat diperkecil dan mobilisasi investasi hijau dapat dipercepat," kata Poppy Ismalina, Direktur GFI Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi