Kawasan RW 10 Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, kini mengalami perubahan suasana yang signifikan dari titik rawan konflik menjadi area produktif. Lahan sempit yang dulunya sering menjadi lokasi bentrokan antar-pemuda telah bertransformasi menjadi kebun urban farming yang hijau.
Seperti dilansir dari Megapolitan, area seluas 1,5 hektare ini dibangun di atas lahan sisa pembangunan Waduk Rawa Malang milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta. Sebelum dikelola, lokasi tersebut juga sering dijadikan tempat pembuangan sampah liar oleh warga sekitar.
"Soalnya sebelum jadi ini (urban farming) emang jadi tempat sampah. Kalau itu lama-lama bisa banyak (sampahnya) jika enggak ditanam begini kan," tutur Ketua Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri RW 10 Semper Timur Dwi Angga Mukti (26) pada Selasa (28/4/2026).
Sepuluh pemuda yang tergolong generasi Z kini mengelola lahan tersebut dengan menanam berbagai jenis sayuran. Setiap harinya, mereka mampu memanen sekitar 15 kilogram sayuran segar seperti sawi dan kemangi untuk dijual ke pasar serta pedagang makanan lokal.
Aktivitas pertanian kota ini menghasilkan omzet sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Pendapatan tersebut dialokasikan untuk membiayai operasional seperti pembelian bibit dan pupuk, sementara sisanya dibagikan kepada para pengurus kelompok tani.
Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai fenomena di Cilincing ini sebagai bentuk nyata pemulihan fungsi ruang kota. Keberhasilan ini dianggap menonjol karena melibatkan peran aktif generasi muda secara konsisten.
"Saya melihat ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi transformasi sosial-ekologis. Lahan yang sebelumnya menjadi titik sampah dan ruang konflik sosial berubah menjadi ruang produktif, ruang edukasi, dan ruang kolaborasi warga," ungkap Mahawan.
Meskipun data pelaku urban farming dari generasi Z belum terpilah secara spesifik, kemunculan kelompok tani muda ini merupakan fenomena yang terus tumbuh di Jakarta. Hingga tahun 2025, Dinas KPKP DKI Jakarta mencatat terdapat 5.910 pelaku urban farming di ibu kota.
Ketertarikan anak muda terhadap sektor ini didorong oleh perpaduan antara isu lingkungan, gaya hidup sehat, dan peluang ekonomi. Penggunaan teknologi sederhana dalam berkebun juga membuat aktivitas ini lebih dekat dengan gaya hidup digital mereka.
Risiko Pencemaran dan Keamanan Pangan
Lokasi kebun yang berada di samping kolong tol Cibitung-Cilincing dan wilayah pesisir membawa tantangan tersendiri terkait risiko kontaminasi. Mahawan memperingatkan adanya potensi pencemaran logam berat seperti timbal dan merkuri dari emisi kendaraan serta limbah sekitar.
"Risiko lingkungan utama adalah kontaminasi tanah, air, debu jalan, dan keamanan pangan," jelas Mahawan.
Untuk menjamin keamanan konsumsi, hasil panen disarankan melalui uji laboratorium yang mengacu pada Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 10 Tahun 2024. Parameter pengujian meliputi pH tanah, kualitas air irigasi, serta ambang batas maksimal cemaran logam berat.
Mahawan memberikan saran teknis untuk meminimalisir risiko kesehatan sebelum hasil uji keluar. Pihaknya merekomendasikan penggunaan sistem tanam yang terpisah dari tanah asli dan mengutamakan tanaman non-umbi.
"Gunakan sistem tanam terpisah dari tanah asli, cuci panen dengan air bersih mengalir, dan prioritaskan tanaman non-umbi karena umbi lebih berisiko kontak langsung dengan tanah," tutur dia.
Strategi Menghadapi Lahan Asin
Kondisi tanah di pesisir utara Jakarta yang memiliki kadar garam tinggi menjadi hambatan bagi pertumbuhan tanaman tertentu. Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri sempat mengalami kegagalan saat mencoba menanam buah-buahan di lokasi tersebut.
"Untuk tanah asin dan kering, jangan memaksakan buah-buahan. Pilih tanaman adaptif dan perbaiki media tanam," tutur Mahawan.
Tanaman yang dinilai paling aman untuk kondisi di bawah jalan tol dan dekat pantai adalah sayuran daun berumur pendek. Jenis tanaman seperti kangkung, bayam, pakcoy, selada, hingga lidah buaya lebih toleran terhadap tingkat salinitas tinggi di wilayah tersebut.
Jika kondisi tanah eksisting terlalu buruk, solusi penggunaan media tanam terkontrol seperti hidroponik atau polybag sangat disarankan. Dukungan pemerintah dan pihak swasta melalui CSR diperlukan untuk memperkuat legalitas lahan dan keberlanjutan ekonomi kelompok tani kota ini.