Sejumlah kota besar di kawasan Timur Tengah dilanda fenomena gelombang panas ekstrem sejak pertengahan Mei 2026 yang diprediksi bertahan sepanjang musim panas. Cuaca panas berkelanjutan ini memicu lonjakan suhu udara hingga melampaui 49 derajat celsius di beberapa wilayah, dilansir dari Lestari.
Badan pemantau kualitas udara IQAir merinci kota-kota yang terdampak meliputi wilayah Mesir, Iran, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Berbeda dengan cuaca panas jangka pendek, wilayah seperti Kuwait, Doha, Dubai, Riyadh, dan Muscat menghadapi intensitas panas berkepanjangan yang diikuti kelembapan pesisir pada malam hari.
"Gelombang panas yang memengaruhi Timur Tengah dimulai pada pertengahan Mei 2026 dan diperkirakan akan berlangsung sepanjang bulan-bulan musim panas," kata IQAir dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Peningkatan suhu ini terjadi akibat adanya tekanan udara tinggi yang bertahan lama hingga membentuk kubah panas. Kondisi tersebut menyebabkan udara turun dan menghambat pertumbuhan awan serta hujan, sehingga sinar matahari langsung memanaskan bumi dengan lebih kuat.
"Gelombang panas akan terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama, dengan masyarakat di Timur Tengah diperkirakan mengalami 200 hari panas ekstrem per tahun. Panas diperkirakan paling intens selama Juli dan Agustus, dengan sedikit kelegaan yang mungkin terjadi pada akhir September atau awal Oktober," beber IQAir.
Berdasarkan catatan lembaga tersebut, Timur Tengah mengalami proses pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Jika tren kenaikan ini terus berlanjut, suhu rata-rata di sejumlah wilayah diprediksi akan melonjak sebesar empat derajat celsius pada tahun 2050.
"Wilayah dengan kelembapan tinggi seperti negara-negara Teluk, misalnya Uni Emirat Arab dan Kuwait, menghadapi risiko khusus, karena tubuh manusia kesulitan mengatur suhunya sendiri dan stres panas dapat terjadi lebih cepat," tulis IQAir.
Selain peningkatan suhu, cuaca ekstrem ini memperburuk kualitas udara akibat percepatan pembentukan ozon permukaan dan peningkatan suspensi debu. Kondisi tersebut memicu tingginya kadar PM2.5 dan PM10 di banyak kota terdampak.
Situasi ini memaksa otoritas lokal di seluruh kawasan mengeluarkan peringatan dini demi keselamatan publik. Organisasi Meteorologi Iran mengeluarkan peringatan langka mengenai efisiensi air dan listrik, sementara Pusat Informasi Iklim Mesir merilis peringatan serupa untuk wilayah Kairo, Mesir Hulu, dan New Valley.
Di Kuwait, kota Jahra mencatatkan rekor delapan hari berturut-turut dengan suhu siang hari di atas 50 derajat celsius dan suhu malam hari melebihi 35 derajat celsius. Departemen meteorologi nasional di negara-negara Teluk mengimbau warga menghindari aktivitas luar ruangan antara pukul 11.00 hingga 16.00, tetap berada di ruang ber-AC, dan memantau kondisi kelompok rentan.