PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berhasil memangkas rugi bersih sebesar 45,2 persen menjadi USD 41,62 juta pada Kuartal I-2026 berkat efisiensi operasional dan peningkatan trafik penumpang. Pencapaian finansial yang dilaporkan pada Rabu (13/5/2026) ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan rugi USD 75,93 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan pendapatan usaha konsolidasian sebesar 5,36 persen menjadi USD 762,35 juta turut memperkuat performa emiten berkode saham GIAA tersebut. Dilansir dari Suara, sektor penerbangan berjadwal menjadi kontributor utama dengan pendapatan mencapai USD 648,10 juta atau tumbuh 7,36 persen secara tahunan.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menilai pertumbuhan trafik penumpang dan perbaikan kinerja keuangan merupakan hasil dari proses penguatan fundamental bisnis. Selama periode Januari hingga Maret 2026, Garuda Indonesia Group tercatat mengangkut 5,42 juta penumpang.
"Pertumbuhan trafik penumpang dan perbaikan kinerja keuangan menunjukkan bahwa langkah transformasi yang kami jalankan mulai menunjukkan progres positif. Fokus kami tetap pada disiplin operasional dan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar Glenny dalam keterangan resminya, Rabu (13/5/2026).
Peningkatan jumlah penumpang ini didukung oleh total 19.337 penerbangan, yang mencakup operasional Garuda Indonesia sebanyak 2,47 juta orang dan Citilink sebesar 2,94 juta orang. Maskapai juga mengoperasikan 102 armada siap terbang untuk mendukung kenaikan frekuensi penerbangan sebesar 5,87 persen.
Bersamaan dengan laporan kinerja tersebut, perusahaan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada Rabu (13/5). Pemegang saham menyetujui perubahan susunan pengurus untuk mempercepat fase pemulihan perusahaan melalui pengangkatan anggota direksi dan komisaris baru.
Frans Dicky Tamara resmi ditunjuk sebagai Direktur Human Capital & Corporate Service, sementara posisi Komisaris kini diisi oleh Sugito Anjasmoro. Langkah strategis ini dilakukan bersamaan dengan pembahasan pendelegasian kewenangan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030 demi memperkuat daya saing maskapai nasional.