Maskapai nasional Garuda Indonesia berhasil menempati peringkat ke-24 dalam daftar WorldÔÇÖs Best Airlines 2026 kategori full-service airlines versi Airline Ratings yang diumumkan pada Kamis (23/4/2026). Pencapaian ini menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam pemeringkatan global tersebut di tengah upaya akselerasi transformasi perusahaan.
Pengakuan internasional ini didasarkan pada penilaian pengalaman pengguna, mencakup kualitas layanan awak kabin hingga sajian makanan di atas pesawat. Keberhasilan ini sekaligus menjadi sinyal pemulihan bagi emiten berkode saham GIAA yang sedang menjalankan program penyehatan kinerja finansial.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menilai raihan tersebut sebagai cerminan awal dari progres perbaikan internal yang tengah dilakukan perusahaan secara berkelanjutan.
"Di tengah dinamika industri penerbangan global yang penuh tantangan, pencapaian ini tentunya menjadi sinyal positif yang mencerminkan progres dari program transformasi Perusahaan," ujarnya Glenny Kairupan, Direktur Utama Garuda Indonesia.
Pihak manajemen kini memfokuskan strategi pada peningkatan kualitas layanan untuk membangun kembali kepercayaan pasar. Selain aspek pelayanan, maskapai pelat merah ini juga mengincar efisiensi di sektor operasional dan pengembangan infrastruktur digital.
"Melalui rekognisi tersebut, Garuda Indonesia berkomitmen mengakselerasi berbagai transformasi kinerja yang tidak hanya berfokus pada perbaikan layanan secara menyeluruh, tetapi juga optimalisasi operasional dan pengembangan digitalisasi layanan secara berkelanjutan," jelas Glenny Kairupan, Direktur Utama Garuda Indonesia.
Berdasarkan laporan keuangan yang dilansir dari Ekonomi, GIAA mencatatkan perbaikan fundamental pada kuartal I/2026 dengan memangkas rugi bersih sebesar 39,23 persen secara tahunan. Rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar US$46,48 juta atau setara Rp790,11 miliar.
Penyusutan kerugian tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan konsolidasian sebesar 5,36 persen menjadi US$762,35 juta. Peningkatan ini dipicu oleh tingginya permintaan penumpang serta perbaikan yield selama tiga bulan pertama tahun 2026.
Dari sisi pengeluaran, beban operasi perusahaan tercatat turun tipis menjadi US$713,2 juta dari posisi sebelumnya US$718,3 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini mendongkrak laba operasi segmen secara signifikan menjadi US$49,13 juta dibandingkan US$5,20 juta pada kuartal I/2025.
Meski menunjukkan tren positif di awal tahun 2026, Garuda Indonesia sebelumnya masih menghadapi tekanan berat sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan melaporkan rugi bersih mencapai US$319,39 juta atau sekitar Rp5,39 triliun pada periode tersebut.