Gapki Proyeksikan Mandatori Biodiesel B50 Serap 1,7 Juta Ton CPO

Gapki Proyeksikan Mandatori Biodiesel B50 Serap 1,7 Juta Ton CPO
Foto: Ilustrasi Gapki Proyeksikan Mandatori Biodiesel B50 Serap 1,7 Juta Ton CPO.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan kebijakan mandatori biodiesel B50 akan menyerap tambahan minyak sawit mentah (CPO) sebesar 1,5 hingga 1,7 juta ton pada 2026. Target pemerintah ini direncanakan mulai berlaku secara nasional pada 1 Juli 2026 mendatang.

Dilansir dari Ekonomi, pertumbuhan serapan domestik ini terjadi saat tren produksi kelapa sawit nasional mengalami stagnasi dalam lima tahun terakhir. Ketua Umum Gapki Eddy Martono menjelaskan bahwa kebijakan ini akan mengubah peta perdagangan minyak sawit di dalam negeri secara signifikan.

"Kalau B50 tahun ini saja kira-kira sekitar penambahan ya, saya bilang penambahan 1,5ÔÇô1,7 juta ton. Kalau 1 tahun diimplementasikan kira-kira penambahannya sekitar 3 sampai dengan 3,5 juta ton. Kalau secara produksi cukup," kata Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.

Pernyataan tersebut disampaikan Eddy saat menghadiri acara internal organisasi di Jakarta Pusat pada Rabu (29/4/2026). Ia menekankan bahwa meskipun produksi saat ini mencukupi, peningkatan produktivitas melalui peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi syarat mutlak keberlanjutan program tersebut.

"Kemarin terjadi kenaikan sedikit karena memang cuaca mendukung, dan juga ada replanting-replanting yang dilakukan oleh perusahaan sudah mulai panen. Nah, kita berharap tahun ini segera peremajaan sawit rakyat harus ditingkatkan. Jangan lagi ada kendala di situ, harus kita lihat kendalanya apa," ujar Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.

Eddy menambahkan bahwa industri sawit juga menghadapi tantangan regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR) serta kenaikan biaya produksi akibat konflik geopolitik. Harga pupuk dilaporkan melonjak 30 persen, sementara biaya bahan bakar industri meningkat dari Rp15.000 menjadi kisaran Rp30.000 per liter.

"Mau tidak mau, industri sawit nasional harus bersiap diri untuk menghadapi implementasi dari EUDR tersebut. Bagaimanapun juga, Uni Eropa merupakan salah satu pasar utama minyak sawit Indonesia selain China dan India," lanjut Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.

Kenaikan biaya operasional ini juga berdampak pada sektor logistik, di mana premi asuransi dan biaya transportasi pengapalan ke Eropa meningkat drastis. Eddy menyebut biaya transportasi sempat melonjak tinggi karena kapal harus memutar rute pelayaran melalui Afrika.

"Waktu awal perang sebelum kemarin terjadi gejatan senjata, bahkan harus memutar melalui Afrika. Ini menyebabkan biaya transport sangat tinggi. Kemudian biaya asuransi juga naik dan rata-rata kenaikan ini sekitar 50%," ungkap Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.

Selain faktor ekonomi dan regulasi, fenomena cuaca El Nino juga membayangi produktivitas lahan petani. Gapki mengkhawatirkan penurunan produksi hingga 2 juta ton akibat faktor cuaca dan potensi berkurangnya penggunaan pupuk oleh petani swadaya.

"Yang ada kemungkinan bukan terjadi kenaikan [produksi CPO], malah penurunan. Yang kami khawatirkan itu seperti masyarakat petani tidak memupuk. Memang betul, pupuk itu efeknya baru 6 bulan kemudian," pungkas Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.

Artikel terkait

Rekomendasi