PT FWD Insurance Indonesia meluncurkan produk asuransi jiwa FWD Income Prosperity di Jakarta pada Senin (25/5/2026) guna membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan di tengah melebarnya kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan nasional.
Langkah strategis ini diambil setelah hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan gap antara inklusi dan literasi keuangan melebar menjadi 14,05 persen dari sebelumnya 9,59 persen pada 2024, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Kondisi tersebut diperkuat oleh data FWD consumer outlook survey dari FWD Group dan Ipsos yang mencatat bahwa 66 persen responden di Indonesia merasa stres atau sekadar bertahan secara finansial, dan hanya 34 persen yang merasa aman.
"Dari survei ini, kami melihat banyak masyarakat ingin memiliki masa depan lebih tenang dan terarah," kata Direktur Utama FWD Insurance Jeffrey Woo.
Perusahaan kemudian menghadirkan produk proteksi baru yang menggabungkan manfaat tunai tahunan terencana dengan perlindungan jiwa untuk memberikan kepastian perencanaan jangka panjang bagi para nasabah.
"With struktur manfaat jelas dan terencana, asuransi ini memberikan visibilitas lebih baik dalam perencanaan keuangan jangka panjang," sambung Jeffrey Woo.
Produk perlindungan ini menawarkan keuntungan tunai tahunan sebesar 14 persen atau 17 persen dari premi tahunan, serta manfaat akhir masa asuransi mencapai 108 persen dari total premi yang telah dibayarkan.
"Pasti diterima (guaranteed issue offer), tanpa pemeriksaan kesehatan untuk uang pertanggungan hingga Rp2 miliar, perlindungan atas risiko meninggal dunia hingga 130% premi dibayar dan tambahan meninggal dunia akibat kecelakaan, serta manfaat pembebasan premi saat terjadi risiko cacat tetap total akibat kecelakaan dan penyakit," terang Jeffrey Woo.
Melalui inovasi layanan ini, pihak perusahaan berkomitmen untuk mendorong perubahan paradigma masyarakat agar melihat produk proteksi sebagai bagian penting dari pengelolaan instrumen keuangan harian.
"Kami percaya dengan solusi tepat, masyarakat dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan percaya diri,ÔÇØ imbuh Jeffrey Woo.
Tanggapan positif juga muncul dari masyarakat mengenai keberadaan produk perlindungan terstruktur yang dinilai memberikan kemudahan dalam menetapkan skala prioritas proteksi anggota keluarga.
Sementara itu, Agatha Suci selaku public figure mengakui perencanaan perlindungan bagi keluarga terasa lebih mudah dengan asuransi jiwa yang memiliki manfaat terstruktur, karena lebih fokus pada keluarga.