Penyedia indeks global FTSE Russell mengumumkan rencana penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks Indonesia pada Juni 2026. Langkah ini diambil setelah instrumen serupa didepak dari indeks MSCI akibat risiko likuiditas bagi investor internasional.
Kebijakan tersebut resmi disampaikan dalam rilis ulasan indeks periode Juni 2026 pada Rabu (13/5/2026). FTSE Russell menerapkan mekanisme penghapusan "price to zero" terhadap emiten yang memiliki kepemilikan sangat terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu sehingga jumlah saham publik menjadi terbatas.
Dilansir dari Investasi, keputusan ini didasari penilaian bahwa status HSC mengganggu integritas indeks karena harga tidak mencerminkan kondisi pasar yang likuid. Kondisi tersebut menyulitkan investor institusi besar yang mengikuti indeks global untuk melakukan transaksi tanpa memicu tekanan harga yang signifikan.
Lembaga indeks tersebut menyatakan telah menerima masukan dari pelaku pasar mengenai potensi memburuknya likuiditas menjelang tinjauan Juni mendatang. Hal ini dianggap menghambat kemampuan investor dalam mereplikasi indeks secara akurat sesuai dengan pedoman pembatasan free float yang berlaku.
Dalam keterangan resminya, pihak pengelola indeks menyebutkan bahwa otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai langkah perbaikan transparansi. Upaya tersebut mencakup pembukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, penerbitan daftar emiten HSC, hingga penguatan laporan klasifikasi investor secara berkala.
"Indonesia-index treatment for June 2026 index review" tulis FTSE Russell dalam laporannya.
Meski ada perbaikan, lembaga ini menilai pasar modal domestik masih memerlukan masa pemantauan yang lebih panjang. Oleh karena itu, penyesuaian besar seperti penambahan saham baru melalui IPO atau peningkatan bobot free float ditunda setidaknya hingga ulasan September 2026.
Untuk periode Juni 2026, pembaruan hanya mencakup hal terbatas seperti perubahan klasifikasi industri, pembaruan jumlah saham beredar, serta penghapusan akibat faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Tindakan tegas terhadap saham HSC dipastikan mulai efektif pada awal perdagangan tanggal 22 Juni 2026.
Daftar spesifik mengenai emiten yang akan dihapus dengan metode harga nol tersebut akan dirilis menyusul oleh pihak regulator indeks. Langkah ini diprediksi akan memengaruhi aliran dana asing mengingat posisi FTSE Russell sebagai salah satu acuan utama bagi manajer investasi global dalam mengelola portofolio di pasar berkembang.