Fenomena Padel dan Strategi Properti Jakarta 2026

Fenomena Padel dan Strategi Properti Jakarta 2026
Foto: Ilustrasi Fenomena Padel dan Strategi Properti Jakarta 2026.

JAKARTA, KOMPAS.com - Di setiap sudut kota, kawasan bisnis bonafide, pusat perbelanjaan, hingga kompleks perumahan, bunyi pantulan bola yang menghantam dinding kian hiruk pikuk terdengar.

Padel, olahraga hibrida antara tenis dan skuas, menjelma menjadi fenomena ruang yang mengubah peta aset properti pada tahun 2026.

Namun, pertanyaan besarnya, apakah olahraga asal Meksiko ini investasi jangka panjang yang menjanjikan, atau sekadar "perban" sementara untuk menutupi luka di sektor properti yang sedang lesu?

Strategi "Tambal Sulam" Aset yang Tertekan

Pasar properti Jakarta tahun ini sedang menari di atas genderang yang berbeda-beda. Di satu sisi, sektor logistik dan pusat data (data center) sedang menikmati masa bulan madu yang panjang.

Di sisi lain, sektor perkantoran (office) dan kondominium kelas menengah masih tertatih-tatih mencari pijakan pasca-pandemi.

Advisory Council JLL Indonesia, Vivin Harsanto, melihat tren menjamurnya lapangan padel sebagai sebuah bentuk "optimalisasi aset" saat ini, ketimbang pengembangan permanen.

Menurutnya, padel adalah jawaban cerdas untuk mengisi area yang underutilized atau belum terpakai secara maksimal.

"Padel itu bagusnya karena bisa mengisi ruang-ruang yang tadinya mungkin mau dibangun satu menara, tapi karena masih menunggu pasar, ya sudah dijadikan lapangan padel dulu," ungkap Vivin menjawab Kompas.com, Kamis (12/2/2026).

Baginya, ini adalah cara pemilik lahan dan bangunan gedung di lokasi-lokasi tertentu, termasuk lokasi premium seperti Kuningan, Sudirman, Menteng, dan Kebayoran, juga di pelosok, agar tanah dan gedungnya tetap produktif daripada dibiarkan menganggur.

"Eman-eman harganya mahal tapi tidak menghasilkan," tambahnya.

Ekonomi Musiman dan "Return on Investment"

Kendati demikian, sejarah gaya hidup urban Indonesia mencatat pola musiman yang kencang.

Kita pernah melewati era demam sepeda lipat, hingga demam lari yang kini sudah menjadi gaya hidup mapan.

Dan padel kini sedang berada di puncak kurva popularitas, didorong oleh demam wellness dan health conscious (kesadaran kolektif untuk sehat dan bugar) para Milenial dan Gen Z.

Namun, dari kacamata bisnis, kepadatan lapangan padel yang muncul di setiap jengkal tanah kosong mulai memicu kompetisi harga, sekaligus kekhawatiran.

Dulu, menyewa lapangan padel di Jakarta mungkin semahal tiket pesawat ke Singapura (harga promosi, tent saja). Sekarang, dengan suplai yang melimpah, harga mulai tergerus.

"Dulu sejam mungkin Rp 500.000, sekarang bisa Rp 250.000. Bagi pengembang yang baru masuk, mereka harus berhitung ulang soal Break Even Point (BEP). Yang tadinya bisa balik modal dalam 1-2 tahun, sekarang dengan persaingan harga, mungkin akan lebih lama," jelas Vivin.

Retail is Detail

Fenomena ini juga merembes ke sektor ritel. Laporan Leads Property Services dan JLL mencatat tingkat okupansi pusat perbelanjaan pada akhir 2025 naik menjadi 86 persen hingga 90,53 persen.

Menariknya, pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi merek internasional, terutama dari China, di sektor F&B dan lifestyle.

Analis Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea, mencatat pembukaan K-Mall di Kemayoran oleh Agung Sedayu Group telah menambah pasokan ritel kumulatif menjadi 3,55 juta meter persegi.

Di tengah persaingan ini, pengelola mal mulai melirik sportainment sebagai magnet trafik.

Namun, mengintegrasikan fasilitas olahraga ke dalam mal bukanlah perkara mudah. Padel, tennis, bulutangkis, dan lain-lainnya, membutuhkan ruang yang luas dan beban lantai yang dinamis.

Vivin menyebutkan bahwa secara komersial, menyewakan lahan besar untuk padel seringkali tidak seuntung menyewakannya untuk specialty stores.

"Kami di ritel harus cepat menjawab demand. Tapi tendensi mixed tenancy di ritel sangat dipengaruhi oleh perubahan demand dari waktu ke waktu," tuturnya.

Membaca Masa Depan

Sementara itu, senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menyoroti pentingnya ketahanan daya beli.

Dalam konteks padel, keberlanjutannya akan sangat bergantung pada seberapa kuat komunitas ini mengakar.

Jika ia hanya menjadi ajang "foto-foto" di media sosial tanpa adanya kompetisi berkelanjutan, maka lapangan-lapangan ini akan segera berubah menjadi jenis properti lainnya, begitu pasar kembali stabil.

"Sektor ritel dan wellness itu beriringan. Sekarang orang Indonesia lebih conscious soal kesehatan, kecantikan, dan wellness. Padel masuk dalam ekosistem itu," kata Syarifah.

Kesimpulannya, padel di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tahun 2026 adalah sebuah "investasi transisi".

Ia adalah solusi kreatif bagi para pemilik lahan dan pemilik gedung untuk bernafas di tengah tekanan pasar yang sedang melakukan retrofit.

Bagi konsumen, ini adalah berkah karena harga semakin terjangkau. Namun bagi investor, ini adalah permainan waktu, siapa yang paling kreatif mengelola komunitas dan fasilitas pendukung, dialah yang akan bertahan ketika tren ini nantinya digantikan oleh "mainan" baru kaum urban.

Artikel terkait

Rekomendasi