Fenomena jasa titip (jastip) emas di Jakarta kini berkembang menjadi rantai ekonomi kecil berbasis kepercayaan di tengah sulitnya akses pembelian langsung pada Senin (20/4/2026). Praktik ini meluas dari lingkaran teman kantor hingga komunitas sebagai solusi atas antrean panjang di butik resmi sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Kiki, seorang pelaku jastip di Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa bisnis ini bermula dari kendala rekan sekitarnya dalam memperoleh produk di Butik Antam TB Simatupang. Permintaan terus meningkat terutama untuk kepingan gram kecil yang sering kali habis dalam waktu singkat jika tidak datang sejak pagi hari.
"Banyak yang pengin beli Antam resmi, tapi mereka enggak punya waktu buat antre. Akhirnya pada nyari jastip," kata Kiki saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Dalam menjalankan operasionalnya, Kiki memberlakukan sistem kuota atau slot pesanan untuk memastikan ketersediaan barang tetap terjaga. Ia membatasi jumlah pesanan agar tidak kewalahan menghadapi dinamika stok di lapangan yang tidak menentu.
"Kalau lagi ramai, kita harus datang pagi banget. Kalau siang biasanya sudah habis, terutama gram kecil," ujar Kiki.
Kiki juga menerapkan sistem uang muka bagi pelanggan baru untuk menghindari risiko kerugian akibat pembatalan sepihak. Biaya jasa yang dipatok berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per keping, tergantung pada tingkat kesulitan mendapatkan stok barang.
"Saya biasanya buka slot. Misalnya cuma terima 10 order dulu. Kalau kebanyakan, nanti kalau stok enggak dapat malah jadi masalah," ucap dia.
Keuntungan bulanan dari bisnis ini sangat fluktuatif, berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 4 juta tergantung ketersediaan emas di butik. Kiki menekankan bahwa menjaga reputasi dan kepercayaan pelanggan adalah kunci utama dalam keberlangsungan usaha ini.
"Minimal Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Itu buat komitmen, karena saya pernah barang sudah ada, customer malah hilang," jelas Kiki.
Narasi serupa disampaikan oleh Shila, pelaku jastip lainnya, yang awalnya hanya membantu rekan kerja sebelum merambah ke pelanggan yang lebih luas. Ia mencatat lonjakan pesanan biasanya terjadi secara signifikan saat harga emas sedang mengalami penurunan atau dalam kondisi stabil.
"Kalau lancar bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta sebulan. Tapi kalau stok susah, ya bisa cuma sejuta-an," kata dia.
Keterbatasan stok sering kali memaksa para jastiper untuk mengantre selama beberapa hari berturut-turut. Shila menggunakan sistem pre-order dan melengkapi transaksi dengan dokumentasi ketat sebagai bentuk transparansi kepada para pelanggannya.
"Awalnya saya cuma bantu teman kantor beli. Lama-lama malah banyak yang nitip," kata Shila saat dihubungi.
Pihak jastiper menilai bahwa dokumentasi mulai dari nota hingga video pengemasan sangat krusial untuk membangun rasa aman konsumen. Hal ini dilakukan guna meminimalisir keraguan pelanggan terhadap keaslian barang dan integritas jasa yang ditawarkan.
"Kadang kita harus datang sampai tiga hari berturut-turut biar pesanan terpenuhi," ujar Shila.
Shila menambahkan bahwa tanpa bukti fisik yang jelas, sulit bagi pelaku jastip untuk mendapatkan kepercayaan di tengah maraknya potensi penipuan. Kejelasan harga dan estimasi waktu menjadi bagian penting dalam setiap kesepakatan dengan pelanggan.
"Kalau enggak ada bukti, orang juga enggak percaya," kata dia.
M Rizal Taufikurahman, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari ketimpangan antara permintaan pasar dengan sistem distribusi ritel. Penumpukan pembelian oleh pihak tertentu dapat memicu kelangkaan semu di pasar resmi.
"Fenomena ini mencerminkan adanya mismatch antara lonjakan permintaan dan keterbatasan distribusi ritel," ujar Rizal saat dihubungi.
Menurut Rizal, meskipun jastip adalah respons pasar, keberadaannya dapat menyebabkan harga emas tidak lagi mencerminkan kondisi fundamental akibat adanya biaya tambahan. Hal ini berdampak pada berkurangnya efisiensi investasi bagi konsumen akhir.
"Ketika stok diserap pelaku jastip, pasar terlihat kosong dan memicu persepsi scarcity," kata Rizal.
Ia mengingatkan bahwa dorongan membeli karena rasa takut tertinggal atau FOMO dapat meningkatkan risiko kerugian investasi bagi masyarakat. Rizal menyarankan agar konsumen tetap memprioritaskan pembelian melalui saluran distribusi resmi yang disediakan perusahaan.
"Dalam banyak kasus, keputusan pembelian didorong oleh FOMO, bukan valuasi, sehingga risiko overpaying menjadi tinggi," ujar Rizal.
Perspektif Konsumen
Di sisi lain, konsumen seperti Mutia dan Ayu memilih jastip karena faktor efisiensi waktu dan keterbatasan mobilitas. Selisih harga yang dibayarkan dianggap sebagai kompensasi yang wajar atas waktu dan tenaga yang dikeluarkan oleh pihak jastiper.
"Saya kerja dari pagi sampai sore. Kalau harus antre dari subuh, saya enggak sanggup," ujar Mutia saat ditemui di sebuah kafe di Matraman.
Mutia mengaku rutin menyisihkan pendapatan untuk membeli emas gram kecil melalui jastip sebagai sarana tabungan. Meski harus membayar biaya ekstra, ia tetap memandang jastip sebagai solusi praktis dibandingkan harus mengantre sendiri.
"Kalau selisih Rp 50.000 sampai Rp 100.000 saya masih oke. Itu bayar jasa orang antre," kata Mutia.
Ayu, seorang ibu rumah tangga, juga mengandalkan jastip tetangganya karena tidak dapat meninggalkan urusan domestik. Baginya, stabilitas nilai emas menjadi alasan utama untuk terus melakukan investasi secara bertahap.
"Jastipnya tetangga sendiri, jadi saya percaya," ujar Ayu saat dihubungi.
Keyakinan Ayu pada emas sebagai aset lindung nilai membuatnya tetap konsisten membeli meski dalam jumlah kecil. Ia lebih memilih mengumpulkan kepingan emas sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan finansial keluarganya.
"Pelan-pelan saja. Kalau ada uang lebih baru nambah," kata dia.
Pengalaman berbeda disampaikan Tisna yang beralih ke jastip setelah berulang kali gagal mendapatkan stok secara mandiri. Ia kini lebih memilih metode pembayaran saat barang diterima untuk memastikan keamanan transaksi.
"Pernah saya antre panjang, tapi pas giliran malah habis. Akhirnya saya cari jastip saja," ujar dia.
Nadya, seorang pelaku UMKM, turut memanfaatkan jastip agar fokus usahanya tidak terganggu oleh keperluan investasi. Namun, ia tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memilih penyedia jasa guna menghindari penipuan.
"Saya enggak bisa ninggalin jualan cuma buat antre," kata Nadya saat dihubungi.
Nadya menegaskan tidak akan mudah tergiur dengan tawaran harga rendah yang tidak masuk akal. Ia selalu menuntut bukti otentik berupa nota pembelian resmi dari butik sebagai syarat utama sebelum menyelesaikan pembayaran.
"Kalau terlalu murah justru curiga. Saya pasti minta nota sama bukti," ujar dia.
Hingga saat ini, pihak manajemen Antam melalui Manager Corporate Secretary Ardian Ganang belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan fenomena jastip emas tersebut.