Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75% dalam rapat kebijakan yang berakhir Rabu (28/1/2026). Langkah ini disertai dengan peningkatan penilaian otoritas moneter Amerika Serikat terhadap pertumbuhan ekonomi yang dinilai berkembang pada laju solid.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau segera setelah pengumuman tersebut sebagaimana dilansir dari Investortrust. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun tercatat naik 2 basis poin ke level 4,243%, sementara tenor 30 tahun meningkat menjadi 4,854% dan tenor 2 tahun berada di posisi 3,575%.
Bank sentral AS juga mengubah narasi mengenai pasar tenaga kerja dengan menghapus klaim mengenai risiko pelemahan yang lebih besar daripada inflasi. Data menunjukkan bahwa meskipun pertambahan lapangan kerja masih rendah, tingkat pengangguran mulai memperlihatkan tanda-tanda stabilisasi.
"Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berkembang dengan laju yang solid. Pertambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi," demikian pernyataan The Fed setelah rapat.
Otoritas moneter tersebut tetap memberikan catatan waspada terhadap kondisi indeks harga konsumen. Pernyataan resmi komite menegaskan bahwa tingkat kenaikan harga di pasar saat ini belum sepenuhnya terkendali.
"Inflasi masih agak tinggi," lanjut pernyataan tersebut.
Ketua The Fed Jerome Powell memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter dalam konferensi pers yang digelar setelah pengumuman. Ia menyoroti efektivitas kebijakan yang sedang berjalan terhadap kondisi ekonomi terkini.
"Saya pikir, dan banyak kolega saya juga berpikir, sulit melihat data yang masuk dan mengatakan bahwa kebijakan saat ini sangat ketat," ujar Jerome Powell, Ketua The Fed.
Di sisi lain, ketidakpastian mengenai kepemimpinan bank sentral muncul setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan mengenai potensi penggantian jabatan pimpinan institusi tersebut. Tom Graff dari Facet menilai siapa pun pemimpinnya, kebijakan suku bunga akan tetap bergantung pada performa ekonomi.
"Siapa pun yang menggantikan Powell, The Fed pada akhirnya akan membuat keputusan suku bunga yang kurang lebih sama," kata Tom Graff, kepala investasi di Facet.
Graff memproyeksikan bahwa langkah pemangkasan suku bunga masih sangat bergantung pada ketahanan ekonomi AS di sepanjang tahun ini. Perkiraan jumlah pemangkasan akan bervariasi mengikuti indikator kekuatan pasar.
"Jika ekonomi memburuk dari sini, The Fed bisa saja memangkas suku bunga beberapa kali sepanjang 2026. Namun jika ekonomi tetap kuat, saya hanya memperkirakan 1 hingga 3 kali pemangkasan," tambah Tom Graff.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut memberikan pandangannya mengenai posisi nilai tukar mata uang dalam wawancara dengan CNBC pada hari yang sama. Ia merespons pergerakan dolar AS yang sempat mengalami pelemahan signifikan di pasar global.
"Jika kita memiliki kebijakan yang sehat, dana akan mengalir masuk. Kita sedang menurunkan defisit perdagangan, sehingga secara otomatis hal itu seharusnya mengarah pada penguatan dolar dalam jangka panjang," urai Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.
Pelaku pasar kini terus memantau dampak kebijakan ini terhadap aliran modal masuk ke Amerika Serikat. Fokus investor tertuju pada keseimbangan antara upaya penurunan defisit perdagangan dan penguatan nilai tukar dolar dalam jangka panjang.