Penulis : Muawwan Daelami 19 Mei 2026 | 14:00 WIB
Kantor pusat Bank Indonesia (BI) di Jakarta tampak pada sore hari yang mendung dalam foto tanpa tanggal. (Foto: B-Universe/ Rommy)
JAKARTA, investor.id ÔÇô The Fed diperkirakan belum akan tiba pada skenario untuk menaikkan suku bunga kendati konflik geopolitik di Timur Tengah masih dinamis yang mendorong harga energi melambung tinggi.
Senior Portofolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief membeberkan alasan mengapa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) tersebut belum akan menaikkan suku bunga.
Pasalnya, menurut dia, kerangka pengambilan kebijakan The Fed bergantung pada outlook inflasi inti yaitu inflasi yang mengecualikan harga energi dan pangan volatil.
ÔÇ£Kenaikan harga minyak memang dapat menyebabkan inflasi umum meningkat. Namun, dampaknya pada inflasi inti diperkirakan lebih tertunda dan lebih gradual sehingga belum akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga,ÔÇØ jelas Syuhada dalam keterangan resminya, Selasa (19/5/2026).
Walau begitu, ketidakpastian harga minyak dapat membuat sikap The Fed lebih berhati-hati melakukan penyesuaian suku bunga. Ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed saat ini menjadi lebih netral dengan memperkirakan Fed Funds Rate bertahan tahun ini ketimbang ekspektasi awal tahun yang terdapat potensi penurunan 50bps.
Lantas pertanyaannya, apakah artinya potensi The Fed menurunkan suku bunga tahun ini tidak ada?
Menurut Syuhada, outlook ke depan bakal bergantung pada perkembangan harga minyak dunia. Apabila konflik Timur Tengah berakhir dan harga minyak normalisasi, narasi pasar dapat kembali mengarah pada potensi penurunan suku bunga.
Sebab, kondisi sektor tenaga kerja AS yang melemah bahkan sebelum terjadinya gejolak geopolitik. Di sisi lain, kondisi harga minyak yang persisten tinggi juga dapat mempersulit kebijakan suku bunga The Fed antara menjaga inflasi dan sektor tenaga.
Sementara di level domestik, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% yoy pada kuartal I-2026 (1Q26) atau tertinggi dalam tiga tahun yang diikuti pelemahan rupiah atas USD juga tidak lepas dari sorotan.
Syuhada berpendapat, terdapat ÔÇÿtrade-offÔÇÖ yang harus dipilih pemerintah merespons lonjakan harga minyak dunia saat ini, yakni antara menjaga daya beli masyarakat atau menjaga stabilitas fiskal dan rupiah.
Kebijakan yang pro-pertumbuhan seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi dan menaikkan subsidi energi, dipandang positif untuk menjaga daya beli masyarakat, walau akan meningkatkan beban APBN dan menekan rupiah karena persepsi investor terhadap stabilitas keuangan negara yang melemah.
Sebaliknya, penyesuaian harga energi dapat memukul daya beli masyarakat, sekalipun dapat meningkatkan kredibilitas APBN dan mendukung rupiah. Keduanya merupakan opsi yang sulit karena harus ada yang ÔÇÿdikorbankanÔÇÖ dan pemerintah harus mencari keseimbangan antara kedua faktor ini.
ÔÇ£Kami memandang, pemerintah akan mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan saat ini dengan asumsi konflik Timur Tengah tidak terjadi berkepanjangan. Namun, rekalibrasi kebijakan dapat dilakukan apabila konflik terus terjadi dan harga energi persisten di level tinggi,ÔÇØ tutur dia.
Syuhada tak menampik, posisi fiskal saat ini terus menjadi perhatian karena realisasi APBN per Maret 2026 mencatat defisit -0.93% dari PDB, atau melebar dibandingkan realisasi tahun sebelumnya per Maret 2025 di -0.43%.
Selain itu, naiknya harga energi juga semakin memberi tekanan karena beban subsidi energi yang meningkat. Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan USD1 harga minyak dapat menyebabkan defisit melebar Rp6.8 triliun. Maka dengan asumsi harga rata-rata minyak di USD90, diperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar 0.5% dari PDB.
Positifnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan efisiensi anggaran di akhir Maret yang diperkirakan dapat menghemat Rp250 triliun (~1% dari PDB), sehingga memberi ruang bagi pemerintah untuk menyerap beban subsidi yang meningkat dan tetap menjaga defisit APBN di bawah 3% dari PDB.
Faktor risiko yang harus diperhatikan adalah apabila rata-rata harga minyak persisten tembus level USD100 karena defisit fiskal dapat semakin melebar dan berisiko menembus batas 3% dari PDB.
Skenario BI
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Utang Luar Negeri Meningkat, Ruang Pembiayaan Menyempit
Harga Emas Melemah usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Tertekan Pasar, The Fed Diperkirakan Akan Naikkan Suku Bunga
Rupiah Terus Melemah, DPR Minta BI-Rate Segera Dinaikkan
Harga Emas Anjlok Lagi, Ini Level Kritisnya
National 5 menit yang lalu Inilah Lima Pesan Keagamaan Musyrif Diny kepada Jemaah Haji Indonesia Niam meminta jemaah haji fokus dan prioritaskan persiapan rangkaian ibadah haji mulai 8 sampai dengan 13 Dzulhijjah
Market 32 menit yang lalu Saratoga (SRTG) Bagi Dividen Tunai Rp 1,4 Triliun Emiten afiliasi Sandiaga Uno, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) berencana membagikan dividen tunai final sebesar Rp 1,4 triliun.
Business 36 menit yang lalu Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas Geopolitik Timur Tengah mendorong krisis energi global yang berdampak langsung terhadap harga energi dunia termasuk LNG.
Macroeconomy 46 menit yang lalu Kemenkeu: Menunda Belanja Berarti Menahan Pertumbuhan Ekonomi Kemenkeu menilai menunda belanja pemerintah sama dengan menahan pertumbuhan ekonomi dan efek berganda ke masyarakat.
Market 51 menit yang lalu IPOT Perkenalkan Pengalaman Trading AI Real Time untuk Gen Z IPOT perkenalkan pengalaman trading AI real time dengan UI/UX dinamis untuk Gen Z, lebih cepat, adaptif, dan berbasis risiko.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Senin 18 Mei 2026: Terpukul Lagi
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Senin 18 Mei 2026: Rontok Parah Pakar Ramal Harga Emas Antam (ANTM) Pekan Depan
Penulis : Muawwan Daelami 19 Mei 2026 | 14:00 WIB
Sedangkan menyangkut outlook rupiah dan kebijakan suku bunga BI, Syuhada mencermati bahwa tekanan rupiah, persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi domestik, dan faktor musiman dari permintaan USD domestik memang tinggi di kuartal kedua ini.
Karena itu, guna meredam pelemahan tersebut, BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan imbal hasil SRBI demi menjaga stabilitas rupiah. Terbukti, imbal hasil rata-rata dalam lelang SRBI 12-bulan meningkat signifikan dari kisaran 4.9% di awal tahun ke 6.5% di awal Mei, yang sukses menarik dana asing sehingga terdapat net inflow Rp78 triliun per April 2026.
Selain itu, untuk membantu nilai tukar rupiah, BI juga telah meningkatkan Repo Rate menjadi 5.1%. Namun pada saat bersamaan, cadangan devisa (cadev) tergerus karena usaha BI menjaga stabilitas rupiah, turun dari USD156.47 miliar di akhir Desember 2025 menjadi USD146.20 miliar per akhir April.
Secara historis, menurut Syuhada, kondisi penurunan cadev yang signifikan tersebut dapat memberi tekanan bagi BI untuk menaikkan suku bunga. Karena itu, di tengah gejolak geopolitik dan tekanan kepada rupiah yang masih tinggi, ruang penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas.
Pasar Obligasi
Diakui Syuhada, kondisi saat ini terlihat sulit bagi outlook pasar obligasi sehingga wajar dalam kondisi sekarang pelaku pasar memperhitungkan skenario terburuk bagi outlook pasar obligasi, seperti risiko harga minyak tinggi berkepanjangan dan risiko naiknya suku bunga.
Positif aspek yang bisa diambil dari kondisi saat ini adalah pasar sudah ÔÇÿpriced-inÔÇÖ risiko tersebut dan yield SBN 10-tahun relatif terjaga dengan tingkat tertinggi di level 6.9% pada periode Maret-April.
Sebaliknya, membaiknya kondisi Selat Hormuz dapat menghidupkan kembali narasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat dan mendukung sentimen investasi secara global yang suportif bagi pasar obligasi.
Untuk itu, Syuhada menyarankan investor menerapkan strategi portofolio pada obligasi tenor pendek dengan mempertimbangkan kurva imbal hasil yang relatif flat, di mana imbal hasil SBN 5-tahun di kisaran 6.5%. Sementara, tenor 10-tahun di kisaran 6.6%, sehingga tenor pendek memberikan value yang menarik dengan yield yang kompetitif namun risiko durasi lebih rendah.
Bagi investor, demikian Syuhada, dalam kondisi pasar yang dinamis saat ini faktor yang paling penting adalah tetap disiplin, fokus pada tujuan jangka panjang, serta memahami bahwa volatilitas saat ini merupakan bagian dari siklus pasar yang tidak terhindarkan.
Diversifikasi portofolio menjadi strategi utama dan kelas aset obligasi tetap berperan penting dalam komposisi portofolio investor karena karakteristiknya yang lebih stabil, tercermin dari kinerja pasar obligasi Indonesia yang resilien dalam lima tahun ke belakang walau telah melewati periode pandemi, perang Rusia-Ukraina, dan kenaikan suku bunga agresif di 2022 ÔÇô 2024.
ÔÇ£Tingkat imbal hasil obligasi yang meningkat dapat menjadi peluang bagi investor untuk berinvestasi di level imbal hasil yang lebih menarik dan mengoptimalkan potensi jangka panjang,ÔÇØ tandasnya.
National 6 menit yang lalu Inilah Lima Pesan Keagamaan Musyrif Diny kepada Jemaah Haji Indonesia Niam meminta jemaah haji fokus dan prioritaskan persiapan rangkaian ibadah haji mulai 8 sampai dengan 13 Dzulhijjah