FAO Peringatkan Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Pangan Global

FAO Peringatkan Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Pangan Global
Foto: Ilustrasi FAO Peringatkan Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Pangan Global.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperingatkan bahwa konflik di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga pangan global dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Ancaman krisis ini membayangi dunia jika gangguan distribusi energi dan pupuk di jalur perdagangan strategis tersebut terus berlanjut, dilansir dari Money pada Kamis (21/5/2026).

Kawasan Teluk yang melewati Selat Hormuz menguasai sekitar 20 persen hingga 45 persen perdagangan input agrifood utama dunia. Gangguan berkepanjangan di jalur ini menyebabkan industri pertanian terancam karena sangat bergantung pada pasokan pupuk berbasis gas alam, seperti urea dan amonia.

Kondisi logistik internasional juga kian memburuk setelah indeks tarif kontainer global melonjak hampir 35 persen sejak perang pecah. Biaya pengiriman yang membubung dan pengalihan rute kapal oleh sejumlah perusahaan pelayaran diperkirakan akan langsung dibebankan pada harga barang konsumsi dan pangan global.

Krisis input pertanian ini dikhawatirkan mengganggu musim tanam karena pabrik-pabrik mulai mengurangi produksi akibat hambatan pasokan gas serta pengiriman. Dampak nyata dari tersendatnya distribusi pupuk global diproyeksikan baru akan terlihat jelas saat musim panen berikutnya berlangsung.

"Ini adalah krisis input, dan kita tidak ingin menjadikannya bencana," kata David Laborde, Kepala Divisi Ekonomi Agrifood FAO.

Pihak asosiasi menilai langkah mitigasi yang diambil oleh pemerintah dan petani pada saat ini akan menjadi penentu krusial. Keputusan tersebut yang akan membedakan antara guncangan harga sementara atau bencana pangan skala besar pada rentang waktu ke depan.

"Waktu terus berjalan," kata Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO.

Ekonom FAO tersebut menekankan pentingnya menjaga jalur perdagangan internasional agar tetap terbuka demi memastikan kapal-kapal logistik dapat kembali bergerak melalui Selat Hormuz. Sektor pupuk tidak memiliki sistem cadangan global yang terkoordinasi seperti minyak bumi, sehingga penanganan pasokan menjadi jauh lebih sulit.

"Sudah saatnya untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas penyerapan negara-negara, bagaimana meningkatkan ketahanan mereka terhadap hambatan ini, sehingga kita mulai meminimalkan dampak potensialnya," kata Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO.

Menurut pihak FAO, penguatan kapasitas penyerapan dan ketahanan pangan nasional memerlukan keterlibatan aktif dari banyak pihak secara global. Langkah antisipatif harus segera dirumuskan demi meminimalkan dampak buruk guncangan rantai pasok terhadap masyarakat dunia.

"Hal ini melibatkan eksplorasi intervensi oleh pemerintah, oleh organisasi keuangan internasional, oleh sektor swasta, oleh badan-badan PBB dan pusat-pusat penelitian lainnya untuk mencoba membantu negara-negara agar dapat mengatasi situasi saat ini dengan lebih baik," ujar Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO.

Kenaikan harga urea yang mencapai 50 persen sejak awal 2026 ini diprediksi paling memukul petani kecil di negara-negara berpendapatan rendah. FAO mendesak negara-negara memperkuat distribusi pangan serta mencegah pembatasan perdagangan yang dapat memperburuk volatilitas harga komoditas global.

Artikel terkait

Rekomendasi