Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan komitmen Indonesia mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat tetap berjalan. Kepastian tersebut ditegaskan pada Selasa (11/3/2025) di Jakarta sebagai respons atas kebijakan Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris.
Dilansir dari Investortrust, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pertumbuhan energi baru terbarukan (EBT) terus didorong. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Kami berusaha untuk selalu menghadirkan EBT guna mewujudkan ketahanan energi, seperti arahan dari Pak Menteri ESDM dan sesuai juga Keppres Nomor 1/2025 tentang Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi. Jadi kita tetap on the track untuk mencapai NZE pada tahun 2060," kata Eniya di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Eniya mengakui munculnya kekhawatiran dari berbagai pihak internasional mengenai keberlanjutan proyek transisi energi di Indonesia. Hal ini dipicu oleh potensi ditariknya dukungan terhadap proyek EBT yang sedang berkembang setelah perubahan kebijakan iklim di Amerika Serikat.
"Walaupun ada banyak hal tentunya di sektor internasional, semua mempertanyakan bagaimana Indonesia ke depan. Pak Menteri (Bahlil Lahadalia) sudah memberi arahan bahwa kita harus menabuh di gendang sendiri, kata beliau," ucap Eniya.
Pemerintah sebelumnya telah memetakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 100 gigawatt (GW) dengan porsi EBT mencapai 75 persen. Rencana besar ini masuk dalam daftar proyek strategis yang diprioritaskan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
"Gelombang pertama investasi senilai US$ 20 miliar dalam kurang lebih 20 proyek strategis bernilai miliaran dolar akan difokuskan pada hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, pembangunan pusat data kecerdasan buatan, kilang minyak, pabrik petrokimia, produksi pangan dan protein, aquakultur, serta energi terbarukan," ucap Presiden Prabowo Subianto.