Eropa Terancam Alami Kelangkaan Pasokan Minyak pada Akhir Mei 2026

Eropa Terancam Alami Kelangkaan Pasokan Minyak pada Akhir Mei 2026
Foto: Ilustrasi Eropa Terancam Alami Kelangkaan Pasokan Minyak pada Akhir Mei 2026.

Eropa diproyeksikan bakal menghadapi krisis kekurangan persediaan minyak pada akhir bulan ini akibat kemerosotan stok global yang diperkirakan tidak akan pulih hingga Desember 2027, seperti dilansir dari Money berdasarkan laporan CNBC pada Selasa (19/5/2026).

Kondisi pasar saat ini dinilai belum mencerminkan tingkat keparahan krisis pasokan yang sedang berlangsung dalam harga minyak maupun pernyataan resmi pemerintah. Ketegangan diperkirakan melonjak seiring menipisnya cadangan global.

Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange, Jeff Currie menjelaskan bahwa ancaman kelangkaan ini dapat melanda kawasan Eropa sewaktu-waktu. Pergerakan harga diprediksi menjadi tidak linier ketika krisis tersebut mulai terjadi secara nyata di pasar fisik.

"Kemudian kita mencari tahu seberapa besar kemauan seseorang untuk membayar molekul terakhir itu,ÔÇØ ujar Jeff Currie, Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange.

Menurut dia, pasar saat ini berada di fase transisi yang biasanya menjadi titik terlemah dari siklus permintaan komoditas tahunan. Namun, momentum libur Hari Peringatan Memorial di Amerika Serikat dan hari libur bank musim semi di Inggris akan segera mendongkrak konsumsi solar, bensin, dan minyak secara tajam.

ÔÇ£Saat itulah Anda akan mulai merasakannya,ÔÇØ kata Jeff Currie, Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange.

Tekanan pada pasar komoditas ini memicu lonjakan harga setelah Badan Energi Internasional mengeluarkan peringatan mengenai penyusutan cadangan minyak dunia yang terjadi secara cepat.

Analis Societe Generale, Mike Haigh mengungkapkan bahwa stabilitas pasar yang terlihat saat ini hanyalah lapisan luar, sementara sistem mendasarnya berada dalam kondisi sangat tertekan.

ÔÇ£Persediaan menurun dengan cepat, dan yang terpenting, hanya sebagian kecil dari stok global yang benar-benar dapat digunakan tanpa mendorong sistem ke dalam tekanan operasional,ÔÇØ kata para analis Societe Generale dalam sebuah catatan.

Faktor utama kemacetan pasokan dipicu oleh pembatasan ketat arus lalu lintas di Selat Hormuz, yang mengontrol seperlima pasokan minyak dan gas dunia, akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah sejak 28 Februrari 2026. Distribusi fisik yang kompleks tetap akan tertunda minimal 52 hari meskipun jalur tersebut dibuka kembali pada awal Juni.

Keterlambatan proses transit kapal tanker, bongkar muat, penyulingan, hingga distribusi menyebabkan hilangnya pasokan beberapa juta barel per hari. Hambatan ini memaksa pasar terus menguras persediaan minyak yang sudah menipis.

Mike Haigh memproyeksikan pembukaan Selat Hormuz pada akhir Juni justru akan membawa tekanan yang lebih dalam dan berkepanjangan bagi pemulihan energi dunia.

Hal tersebut dikarenakan proses pemulihan fisik baru akan bergeser ke akhir Agustus, sementara normalisasi menyeluruh kemungkinan baru berjalan pada September. Penundaan lebih lama berisiko mendorong harga minyak mendekati 150 dollar AS per barel hingga akhir tahun.

ÔÇ£Meskipun arus pasokan kembali normal, keterlambatan waktu tersebut memperparah defisit persediaan, memperpanjang kelangkaan hingga 2027 dan meningkatkan normalisasi penuh lebih jauh lagi, menyoroti betapa sensitifnya sistem ini terhadap perubahan kecil sekalipun dalam waktu pembukaan kembali,ÔÇØ jelas para analis Societe Generale.

Tersendatnya negosiasi antara Washington dan Teheran pada Senin sore langsung berdampak pada kenaikan tipis harga minyak mentah di pasar global. Minyak mentah Brent naik 1,4 persen ke angka 110,73 dollar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate AS meningkat 1,3 persen menjadi 106,86 dollar AS per barel.

Artikel terkait

Rekomendasi