Sejumlah komoditas perkebunan unggulan Indonesia mencatatkan penurunan nilai ekspor signifikan pada Maret 2026 akibat gangguan operasional distribusi di dalam negeri. Meski terjadi koreksi tajam, pelaku usaha optimis kondisi ini bersifat sementara karena permintaan pasar internasional masih tetap tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir dari Ekonomi, sektor lemak dan minyak hewan nabati mengalami penyusutan ekspor sebesar 27,02 persen secara tahunan. Penurunan ini memberikan andil negatif sebesar 3,52 persen terhadap total nilai ekspor nasional pada periode tersebut.
Koreksi lebih dalam terjadi pada komoditas kakao dan olahannya yang merosot hingga 50,89 persen. Sementara itu, kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah mencatatkan kontraksi paling besar mencapai 54,69 persen dengan andil penekan terhadap ekspor sebesar 0,68 persen.
Vice President Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah Moelyono Soesilo menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh terbatasnya hari kerja efektif. Libur panjang dan pembatasan operasional angkutan barang selama Maret menghambat kelancaran pengiriman barang ke pelabuhan.
"Permintaan masih tetap ada dan tinggi. Akan nampak pulih ekspor kopi pada bulan April," ujar Moelyono Soesilo, Vice President AEKI Jawa Tengah pada Rabu (6/5/2026).
Pihak asosiasi menilai faktor fundamental pasar global sebenarnya tidak mengalami masalah berarti. Kendala utama justru berasal dari sisi logistik internal yang menyebabkan penumpukan stok yang seharusnya dikirimkan pada bulan Maret.
Namun, Moelyono tidak menampik adanya perlambatan serapan dari kawasan Timur Tengah akibat ketegangan geopolitik. Negara-negara seperti Dubai, Arab Saudi, dan Mesir mulai mengurangi permintaan biji kopi asal Indonesia seiring terganggunya aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan harga internasional yang mulai terkoreksi. Masuknya musim panen di berbagai sentra produksi dalam negeri turut memberikan tekanan pada harga kopi di tingkat global.
Meskipun harga dunia melandai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan kompensasi bagi para eksportir. Selisih kurs ini membantu menjaga margin keuntungan pelaku usaha di tengah fluktuasi harga komoditas.
Moelyono menegaskan bahwa fokus pasar kini beralih ke kawasan Asia Pasifik yang menunjukkan pertumbuhan konsumsi stabil. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak kembali volume ekspor pada kuartal kedua tahun ini.
"Permintaan tetap ada dan kuat dari negara konsumen di Asia Pasifik," kata Moelyono Soesilo, Vice President AEKI Jawa Tengah.