Pemerintah Indonesia belum merealisasikan rencana ekspor tenaga listrik ke Singapura akibat belum tercapainya kesepakatan mengenai nilai jual pada Senin (11/5/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya prinsip keadilan dalam kerja sama energi tersebut.
Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, Bahlil menyatakan bahwa Indonesia tetap membuka peluang kerja sama kelistrikan selama memberikan keuntungan bagi kedua negara. Kajian mendalam saat ini tengah dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan nilai ekonomi dari proyek ekspor tersebut memadai.
Bahlil memberikan penekanan khusus pada aspek harga agar tidak merugikan kepentingan nasional. Menurutnya, diskusi mengenai skema saling menguntungkan atau win-win solution menjadi syarat mutlak sebelum proyek ini dilanjutkan ke tahap berikutnya.
"Untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam," terang Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Sebagai perbandingan, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia sebelumnya telah memiliki rekam jejak kerja sama kelistrikan dengan negara tetangga lainnya. Indonesia saat ini tercatat melakukan impor listrik dari Malaysia melalui wilayah Kalimantan.
Skema impor tersebut dinilai berhasil karena telah memenuhi unsur keekonomian yang disepakati bersama. Kerja sama dengan Malaysia menggunakan sumber energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dialirkan ke jaringan listrik domestik.
"Seperti kita melakukan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia, itu kan kita juga impor listrik dari Malaysia, PLTA kita lewat Kalimantan. Itu bagus, harganya cengli," ujar Bahlil.
Pemerintah saat ini masih memprioritaskan ketersediaan energi domestik sembari meninjau proposal harga dari pihak Singapura. Evaluasi teknis dan ekonomi terus berjalan di Kementerian ESDM guna menentukan kelayakan ekspor listrik lintas negara tersebut.