Kinerja ekspor komoditas perkebunan Indonesia, khususnya kopi dan kakao, mengalami penurunan tajam pada Maret 2026 akibat penyusutan permintaan dari pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Penurunan ini memberikan tekanan signifikan terhadap total nilai ekspor nonmigas nasional di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pengiriman kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah merosot hingga 54,69 persen secara tahunan. Penurunan tersebut dilansir dari Ekonomi turut memberikan andil negatif sebesar 0,68 persen terhadap keseluruhan total ekspor Indonesia.
Sektor kakao juga mencatatkan hasil serupa dengan penurunan ekspor sebesar 50,89 persen yang menyumbang penekan sebesar 0,75 persen. Secara keseluruhan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi bidang dengan kontraksi terdalam mencapai 44,14 persen secara tahunan.
Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Soetanto Abdoellah menjelaskan bahwa kemerosotan ekspor kopi mencakup volume dan nilai pada jenis biji kopi robusta maupun arabika. Fenomena ini dipengaruhi oleh naiknya tingkat konsumsi di dalam negeri yang berbarengan dengan melambatnya serapan pasar mancanegara.
"Memang terjadi penurunan volume maupun nilai ekspor biji kopi arabika maupun robusta green bean not roasted," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Meskipun ekspor bahan mentah turun, Soetanto mencatat adanya pertumbuhan pada produk kopi olahan di awal tahun ini. Sebagian besar kategori kopi sangrai atau roasted coffee tetap menunjukkan tren positif secara tahunan, kecuali pada jenis produk kopi bubuk.
Kondisi pada sektor kakao dinilai lebih mengkhawatirkan karena penurunan volume ekspor terjadi pada pasta kakao, lemak kakao, hingga produk cokelat. Selain volume yang menyusut, nilai ekspor mayoritas produk olahan kakao juga melemah akibat koreksi harga komoditas tersebut di pasar internasional.
Berdasarkan data perdagangan, harga lemak kakao turun menjadi US$7,74 per kilogram, sementara biji kakao terkoreksi ke angka US$5,66 per kilogram. Soetanto menegaskan bahwa situasi ini merupakan dampak langsung dari melemahnya daya serap pasar di kawasan Asia, Amerika Serikat, dan Eropa.
"Lebih banyak dipengaruhi permintaan global yang melemah," katanya.
Penurunan permintaan kopi paling besar berasal dari India, Jepang, dan Amerika Serikat, sedangkan untuk kakao, pengurangan pembelian signifikan terjadi dari Estonia dan Amerika Serikat. Soetanto menyarankan perlunya diversifikasi pasar ke negara-negara yang tidak terdampak konflik geopolitik, seperti ketegangan di Timur Tengah serta Rusia-Ukraina, guna menjaga stabilitas ekspor ke depan.