Industri perbankan nasional dinilai sedang melangkah ke dalam fase peluang seiring dengan kondisi stabilitas makroekonomi yang terjaga. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif turut mendukung sektor ini menuju fase ekspansi yang sehat.
Dilansir dari Investortrust, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) Hery Gunardi menyampaikan bahwa inflasi domestik yang terkendali menjadi pondasi krusial. Kondisi tersebut membuka ruang yang lebar bagi penyaluran kredit pada tahun 2026.
Hery Gunardi menerangkan bahwa inflasi saat ini berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) yaitu sebesar 1,5%-3,5%. Angka ini membuat tekanan overheating menjadi lebih terbatas apabila dibandingkan dengan periode tahun 2022 hingga 2023.
"Dengan inflasi yang stabil ini BI memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran sehat terukur pada tahun 2026," ujar Hery, dalam webinar OJK Institute, Kamis (19/2/2026).
Penurunan suku bunga acuan yang sudah dimulai sejak tahun 2025 diproyeksikan akan berlanjut sekitar 50 basis poin pada tahun ini. Perpaduan antara inflasi yang aman dan penurunan suku bunga bakal menghasilkan likuiditas yang lebih baik bagi pertumbuhan kredit.
"Namun, efektivitasnya tetap tergantung pada kualitas permintaan kredit dan transmisi sektor riil," kata Hery.
Dari sektor fiskal, peningkatan belanja pemerintah dipandang sebagai pendorong utama bagi percepatan ekonomi. Anggaran negara masih diprioritaskan untuk fungsi ekonomi serta pelayanan umum, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan desa, koperasi, dan penguatan UMKM.
Berbagai program strategis tersebut diperkirakan mampu memberikan kontribusi tambahan sekitar 0,35% bagi pertumbuhan ekonomi tahun 2026. Dampak positifnya juga akan langsung menyasar pada kenaikan kredit serta dana pihak ketiga (DPK).
Proyek pembangunan 3 juta rumah dinilai akan menggerakkan sektor konstruksi, industri bahan bangunan, pembiayaan KPR, hingga ekosistem perumahan yang lebih luas. Di samping itu, kehadiran koperasi desa/kelurahan Merah Putih diyakini mampu melahirkan aktivitas ekonomi baru sekaligus meningkatkan inklusi keuangan daerah.
"Efeknya bukan hanya pada proyek inti, tapi pada multiplier effect yang menggerakkan produksi lapangan kerja dan daya beli," ucapnya.
Hery Gunardi menambahkan bahwa sektor perbankan, khususnya bank-bank yang tergabung dalam Himbara termasuk BRI, berkomitmen menjadi mitra utama pemerintah. Peran ini diwujudkan lewat dukungan penuh terhadap seluruh program strategis nasional.
"Disinilah perbankan berperan bukan sekadar menyalurkan kredit tetapi membiayai ekosistem pertumbuhan yang berkelanjutan," ujarnya.
Terdapat tiga peran sentral perbankan dalam memacu roda ekonomi, yaitu menjaga ketersediaan pendanaan murah, mendorong pembiayaan sektor produktif, serta mengembangkan pendekatan yang berbasis ekosistem.
Langkah pembiayaan untuk UMKM kini diarahkan agar terintegrasi ke dalam rantai nilai yang utuh. Proses tersebut memanfaatkan instrumen kontrak digital scoring serta pendanaan bertema khusus seperti green financing.
"Dengan pendekatan ini pertumbuhan kredit tidak hanya terjaga tetapi juga lebih berkualitas pada berkelanjutan," kata Hery.
Sektor jasa keuangan memegang peranan penting dalam mempertahankan stabilitas, memperkuat jalannya transmisi kebijakan, sekaligus menyokong bidang produktif sebagai penggerak utama ekonomi di Indonesia.
Oleh karena itu, jalinan kerja sama dan sinergi dari seluruh pihak terkait menjadi sangat penting untuk diterapkan.
"Dengan tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, dan komitmen terhadap transformation, saya meyakini sistem keuangan Indonesia akan tetap resilien dan mampu tumbuh secara sehat di tengah berbagai tantangan global," ucap Hery.