Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I-2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I-2026
Foto: Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I-2026.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengonfirmasi ketahanan ekonomi nasional yang tetap kokoh di tengah tekanan global dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Capaian yang disampaikan pada Senin (11/5/2026) di Jakarta ini menempatkan posisi Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara anggota G20 lainnya.

Dilansir dari Detik Finance, lembaga keuangan internasional J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua yang paling resilien menghadapi krisis energi global. Ketahanan tersebut dipicu oleh melimpahnya produksi komoditas domestik yang memenuhi kebutuhan energi nasional secara signifikan.

Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi Kemenko Perekonomian, Evita Manthovani, menjelaskan bahwa komposisi energi Indonesia didominasi oleh sumber daya internal. Hal ini memberikan keunggulan komparatif dibandingkan negara maju dan berkembang lainnya.

"J.P. Morgan juga menilai Indonesia sebagai negara yang paling tahan krisis energi kedua setelah Afrika Selatan di atas Tiongkok dan Amerika. Ditopang oleh produksi batubara domestik yang memiliki sekitar 48% konsumsi energi dan juga gas bumi domestik 22% serta energi terbarukan sebesar 7%," ujar Evita Manthovani, Staf Ahli Kemenko Perekonomian.

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai lebih kuat dibandingkan China yang tumbuh 5 persen dan Korea Selatan di level 3,6 persen. Realisasi ini sekaligus melampaui berbagai angka proyeksi yang sebelumnya ditetapkan oleh sejumlah lembaga penilaian internasional.

"Ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi kita tetap kokoh, kuat, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari bagian besar negara G20, China itu 5%, dan Korea Selatan 3,6%. Bahkan ini melebihi proyeksi berbagai lembaga penilaian. ," jelas Evita Manthovani, Staf Ahli Kemenko Perekonomian.

Sektor konsumsi rumah tangga menjadi motor utama penggerak ekonomi dengan kenaikan mencapai 5,52 persen. Selain itu, akselerasi belanja pemerintah pada awal tahun tercatat mencapai Rp 815 triliun atau sekitar 21,21 persen dari pagu APBN.

Kondisi inflasi pada April 2026 juga terjaga pada angka 2,42 persen, sementara indeks keyakinan konsumen tetap berada di level optimistis 122,9. Neraca dagang per Maret 2026 mempertahankan tren surplus selama 71 bulan berturut-turut dengan nilai mencapai US$ 3,32 miliar.

"Ini surplus kita sudah 71 bulan berturut-turut, ini capaian yang luar biasa, patut kita syukuri. Dan credit growth di Maret itu 9,49% naik dari Februari yang sebesar 9,37% year on year-nya," pungkas Evita Manthovani, Staf Ahli Kemenko Perekonomian.

Artikel terkait

Rekomendasi