Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026
Foto: Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026.

Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I/2026 di tengah percepatan belanja negara yang dilakukan pemerintah. Capaian ini melampaui pertumbuhan kuartal IV/2025 sebesar 5,39 persen dan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 4,87 persen.

Data Badan Pusat Statistik yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku menyentuh Rp6.187,2 triliun. Peningkatan ini dipicu oleh strategi fiskal pemerintah yang menggeser paradigma dari penyerapan anggaran di akhir tahun menjadi percepatan di awal tahun.

Realisasi belanja negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp815 triliun, tumbuh 31,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah melonjak tajam sebesar 21,81 persen, sementara pembentukan modal tetap bruto naik 5,96 persen.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Yossi Martino menyatakan bahwa kebijakan fiskal yang terukur di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi motor utama penggerak angka tersebut. Namun, besarnya belanja awal tahun mengakibatkan defisit APBN kuartal I menyentuh Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB.

"Jika pemerintah dapat mempertahankan momentum ini di sisa tahun 2026, target pertumbuhan ekonomi pemerintah di rentang 5,4 hingga 5,6% PDB bukan tidak mungkin terjadi," ujar Yossi Martino.

Yossi menekankan perlunya integrasi antara percepatan belanja dengan insentif investasi di berbagai sektor produktif. Menurutnya, perbaikan tata kelola program prioritas dan ketepatan perlindungan sosial menjadi kunci untuk menjaga kelompok kelas menengah dan rentan.

"Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebenarnya berada dalam tren pelemahan, yakni turun dari level 127 pada Januari menjadi 122,9 pada bulan Maret. Secara alamiah ada pengetatan sentimen di level konsumen. Akan tetapi, karena pemerintah meresponsnya dengan frontloading perlindungan sosial, pencairan THR, dan MBG secara masif, daya beli itu berhasil dibentengi sehingga konsumsi tetap tumbuh 5,52%," kata Yossi Martino.

Sektor akomodasi serta makan dan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 13,14 persen. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas masyarakat selama momen Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada periode laporan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi