Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026
Foto: Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I/2026.

Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I/2026 yang dipicu oleh akselerasi belanja pemerintah dan program prioritas nasional pada Selasa (5/5/2026). Capaian ini melampaui pertumbuhan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya sejak 2013.

PDB atas dasar harga berlaku pada periode ini tercatat senilai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp3.447,7 triliun sebagaimana dilansir dari Ekonomi. Meski tumbuh secara tahunan, kinerja ini mengalami kontraksi 0,77 persen dibandingkan kuartal IV/2025.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa performa ekonomi di awal tahun ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir jika ditarik secara historis.

"Kalau kita lihat triwulan satu ini tentunya yang relatif paling tinggi dibandingkan dengan sebelumnya," terang Amalia, Kepala BPS.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan di sektor lapangan usaha konstruksi tercatat mencapai 5,49 persen yang didorong oleh penambahan 6.737 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih.

"Konstruksi tumbuh menguat 5,49% sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur fisik yang didorong oleh meningkatnya realisasi anggaran belanja modal pemerintah untuk sektor konstruksi, meningkatnya aktivitas konstruksi oleh swasta, salah satunya karena bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dan juga Koperasi Desa Merah Putih," ujar Amalia, Kepala BPS.

Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen sebagai dampak dari perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen libur nasional.

"Di mana hal ini didorong oleh peningkatan penyediaan makanan dan minuman pada momen libur nasional dan perluasan cakupan Makan Bergizi Gratis," ucap Amalia, Kepala BPS.

Pertumbuhan juga didukung oleh investasi fisik pada Proyek Strategis Nasional, termasuk proyek MRT Jakarta yang menyerap investasi lebih dari Rp25 triliun.

"Dalam triwulan I/2026 ini juga kami mencermati adanya pembangunan fisik SPPG yang cukup masif dan tentunya pembangunan fisik dan infrastruktur konektivitas ini menjadi bagian dari kontribusi terhadap PMTB," pungkas Amalia, Kepala BPS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan realisasi ini berada di atas pertumbuhan sejumlah negara G20 dan melampaui proyeksi para ekonom.

"Ini di atas rata-rata historis dan tentu ini didorong oleh beberapa program belanja kementerian/lembaga termasuk MBG sampai dengan Maret Rp51 triliun. Kemudian stimulasi daripada diskon tarif. THR dan untuk ASN realisasi sebesar Rp51,65 triliun serta dari pihak swasta maupun ojol," jelas Airlangga, Menko Perekonomian.

Pemerintah berencana menjaga momentum pertumbuhan melalui optimalisasi fiskal guna mencapai target tahunan sebesar 5,4 persen di tengah ketidakpastian global.

"Kebijakan fiskal akan dioptimalkan untuk menjaga momentum pencapaian target pertumbuhan di 2026 sebesar 5,4% dan menjadi buffer terhadap gejolak ekonomi global," tutur Airlangga, Menko Perekonomian.

Akselerasi program energi baru terbarukan juga menjadi fokus pemerintah untuk menekan beban pembelian solar di masa mendatang.

"Akselerasi program EBT ini diharapkan bisa melakukan penghematan terhadap pembelian solar sebesar Rp48 triliun," lanjut Airlangga, Menko Perekonomian.

Head Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. Faisal Rachman menilai kebijakan pemerintah dalam menjaga harga BBM subsidi berperan penting menjaga stabilitas inflasi domestik.

"Pertumbuhan kemungkinan besar akan tetap didorong oleh kebijakan fiskal, serupa dengan pola yang diamati pada semester II/2025, dengan langkah-langkah fiskal memainkan peran penting dalam mendukung konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi," jelas Faisal, Ekonom Bank Permata.

Faisal memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 akan tetap tangguh meski menghadapi risiko kenaikan harga minyak dunia.

"Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan tetap tangguh di kisaran 5,1% sampai 5,3% pada 2026," papar Faisal, Ekonom Bank Permata.

Samuel Sekuritas Indonesia dalam kajiannya mengingatkan pentingnya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makro dan nilai tukar.

"Pada konteks ini, mempertahankan stabilitas makro, khususnya manajemen nilai tukar dan koordinasi kebijakan yang terukur dengan BIa kan sangat penting dalam mempertahankan pertumbuhan sekaligus menjaga kepercayaan investor," dikutip dari kajian Samuel Sekuritas.

Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I (yoy)
TahunPertumbuhan (%)
20265,61
20254,87
20245,11
20235,03
20225,04
2021(0,7)
20202,97
20195,07
20185,06
20175,01
20164,92
20154,72
20145,14
20136,02
PDB Menurut Lapangan Usaha Kuartal I/2026
Lapangan UsahaDistribusi (%)Pertumbuhan (%)
Industri pengolahan19,075,04
Perdagangan13,286,26
Pertanian12,674,97
Konstruksi9,815,49
Pertambangan8,69(2,14)
Transportasi dan pergudangan6,11(8,04)
Infokom4,427,14
Jasa Keuangan4,204,68
Administrasi pemerintahan3,376,45
Akomodasi dan makan minum2,7913,14
Jasa Pendidikan2,765,18
Real estat2,263,54
Jasa lainnya2,209,91
Jasa Perusahaan1,974,91
Jasa Kesehatan1,247,62
Pengadaan Listrik dan gas0,95(0,99)
Pengadaan air0,060,42

Artikel terkait

Rekomendasi