Pertumbuhan ekonomi China kembali mengalami hambatan signifikan pada April 2026. Seperti dikutip dari Investor Daily, sektor konsumsi, produksi industri, hingga investasi di negara tersebut dilaporkan tumbuh di bawah ekspektasi pasar akibat rembetan konflik perang di Iran yang mengguncang rantai pasok global.
Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis Senin (18/5/2026), sektor penjualan ritel hanya tumbuh tipis 0,2% secara tahunan (YoY). Angka ini meleset jauh dari prediksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 2%, serta melambat tajam dari pertumbuhan Maret 2026 yang mencapai 1,7%.
Performa ritel kali ini menjadi yang terlemah sejak Desember 2022, masa di mana China baru mulai melonggarkan pembatasan ketat Covid-19. Kelesuan ini turut merembet ke sektor industri dengan output April tercatat tumbuh 4,1% secara YoY, melambat dibanding pencapaian Maret 2026 sebesar 5,7%.
Sektor investasi aset tetap di kawasan perkotaan, termasuk infrastruktur dan realestat, mengalami kontraksi minus 1,6% selama empat bulan pertama tahun ini. Penurunan investasi ini utamanya disebabkan oleh sektor properti yang kian terpuruk hingga ambles 13,7% sepanjang tahun ini per April.
"Investasi properti di China telah menyusut hampir separuh sejak masa puncaknya pada 2021. Penurunan harga rumah yang terus berlanjut berisiko memperparah beban finansial rumah tangga," ujar peneliti Center for China Analysis Lizzi Lee, Senin.
Lizzi Lee menambahkan bahwa keterpurukan sektor ini telah memicu gelombang PHK besar-besaran di sektor konstruksi dan industri turunannya. Sebaliknya, investasi di sektor infrastruktur dan manufaktur masih mampu tumbuh masing-masing sebesar 4,3% dan 1,2%.
Di tengah lesunya permintaan domestik, sektor ekspor tampil sebagai penyelamat ekonomi China dengan melesat tajam sebesar 14,1% pada April 2026. Pabrik-pabrik berpacu memenuhi lonjakan permintaan luar negeri karena pembeli asing memilih menimbun barang akibat kekhawatiran kenaikan biaya produksi.
Tingkat pengangguran di kawasan perkotaan juga sedikit membaik, turun ke angka 5,2% dibandingkan bulan Maret yang sebesar 5,4%. Sentimen positif lain datang dari hubungan dagang regional pascapertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu.
Pemerintah Negara Tirai Bambu tersebut telah sepakat untuk membeli produk pertanian AS senilai minimal US$ 17 milar pada 2026 hingga dua tahun ke depan, serta memesan 200 unit pesawat terbang dari Boeing. Kedua negara juga sepakat membentuk Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi AS-China.
Kepala Riset Makro Asia di OCBC Bank Tommy Xie menilai, pemerintahan Trump kini melunak dan mulai menjauh dari tuntutan awalnya terkait reformasi struktural mendalam di China. "Kedua negara kian menyadari bahwa pemutusan hubungan ekonomi secara total (decoupling) atau konflik yang tak terkendali akan membawa kerugian finansial yang teramat besar bagi perekonomian masing-masing," kata Xie.
Tekanan Energi dan Lonjakan Biaya Produksi
Juru Bicara NBS Fu Linghui memperingatkan, volatilitas di pasar energi serta gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah masih membayangi pemulihan ekonomi global. Biaya komoditas yang melambung mengakhiri tren deflasi pabrik hingga membawa harga produsen menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Ekonom OCBC memprediksi perusahaan-perusahaan di China akan memilih menyerap lonjakan biaya komoditas tersebut secara mandiri ketimbang membebankannya langsung kepada konsumen. Di sisi lain, belanja masyarakat di sektor budaya, pariwisata, olahraga, dan hiburan tumbuh impresif sebesar 5,6% selama empat bulan pertama tahun ini.
Para analis memperkirakan pemerintah China kemungkinan besar akan mengambil sikap menunggu dan baru akan mengevaluasi kembali kebijakan stimulus moneter mereka pada Juli 2026, setelah data produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 resmi dirilis.
Perlambatan ekonomi China pada April 2026 merupakan cerminan dari kombinasi hantaman eksternal dan krisis struktural internal. Bagi China yang berstatus sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, volatilitas harga energi langsung menekan margin keuntungan industri manufaktur dalam negeri.
Sementara dari dalam negeri, sektor properti yang secara historis menyumbang hampir sepertiga dari total PDB China masih terjebak dalam tren penurunan harga. Akibatnya, masyarakat cenderung menahan belanja mereka dan memilih menabung, yang memicu anjloknya penjualan ritel domestik ke tingkat terendah dalam hampir 3,5 tahun terakhir.