Fenomena antrean panjang pembeli produk gaya hidup seperti jam tangan kolaborasi dan parfum viral di pusat perbelanjaan Jakarta menjadi sorotan di media sosial.
Kondisi tersebut memicu respons dari kalangan ekonom yang menilai tren ini tidak dapat menjadi tolok ukur kekuatan daya beli masyarakat secara nasional.
Dikutip dari Money, antrean produk kolaborasi Swatch x AP dan peluncuran parfum lokal Mykonos terlihat di sejumlah mal besar di ibu kota.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa keramaian tersebut tidak merepresentasikan kondisi konsumsi rumah tangga nasional yang lebih luas.
"Kurang tepat kalau langsung dijadikan indikator bahwa daya beli masyarakat secara agregat masih kuat. Dalam ekonomi konsumen, fenomena seperti ini justru sering menyesatkan kalau tidak dibaca dalam konteks yang lebih luas," ujarnya.
Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa fenomena antrean produk yang sedang tren cenderung mengandung bias seleksi (selection bias) dalam perspektif ekonomi konsumen.
Kerumunan di pusat perbelanjaan premium kawasan urban hanya memperlihatkan aktivitas belanja segmen kelas menengah ke atas yang kondisi finansialnya relatif stabil.
Aktivitas kelompok tersebut dinilai tidak mewakili kondisi riil dari total 287 juta penduduk di Indonesia.
"Antrean yang viral di media sosial terlihat besar, tetapi secara statistik sebenarnya sangat kecil dibanding populasi konsumen Indonesia secara keseluruhan," kata dia.
Faktor lain yang disoroti adalah adanya bias kelangsungan hidup (survivorship bias), di mana perhatian publik hanya tertuju pada produk yang berhasil viral.
Sementara itu, produk-produk lain di kategori sejenis pada waktu yang sama bisa jadi sedang mengalami sepi pembeli.
Sinyal Perlambatan Konsumsi Makro
Data ekonomi makro saat ini menunjukkan gambaran konsumsi rumah tangga yang bervariasi dan cenderung memperlihatkan tanda perlambatan.
Indikator seperti indeks penjualan ritel tidak sekuat periode sebelumnya, diikuti hasil survei yang menunjukkan pergeseran pola belanja masyarakat ke produk esensial.
"Jadi antrean produk hype tidak otomatis berarti purchasing power masyarakat luas sedang baik," tegasnya.
Yusuf Rendy Manilet berpendapat fenomena ini lebih menggambarkan terjadinya K-shaped consumption, yaitu kondisi terbelahnya pola konsumsi masyarakat.
Kelompok masyarakat kelas atas tetap mempertahankan belanja gaya hidup, sedangkan kelompok menengah ke bawah mulai menekan pengeluaran.
"Yang terlihat di antrean itu adalah konsumsi segmen atas yang tetap resilien, bukan refleksi kesehatan konsumsi nasional secara menyeluruh," ucap dia.
Faktor psikologis seperti status sosial, eksklusivitas, hingga ketakutan tertinggal tren (FOMO) menjadi pendorong utama pembelian produk gaya hidup tersebut.
Meskipun berdampak positif bagi retail premium dan industri kreatif, pembacaan situasi ekonomi yang terlalu optimistis dari fenomena ini dinilai cukup berisiko.
"Kalau dibaca terlalu optimistis, bisa berbahaya, sebab ketika konsumsi terlalu ditopang kelas atas, struktur ekonomi menjadi lebih rapuh karena konsumsi kelompok ini sangat sensitif terhadap wealth effect pasar aset dan kondisi finansial global," pungkasnya.