Tekanan ekonomi global diperkirakan akan semakin memperberat beban anggaran rumah tangga dalam waktu dekat. Para ekonom kini memproyeksikan Indeks Harga Konsumen atau IHK akan melonjak ke angka tahunan sebesar 6% pada kuartal kedua tahun 2026.
Seperti dikutip dari Media Indonesia, lonjakan signifikan tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Berdasarkan survei terhadap 33 analis profesional yang dirilis oleh Federal Reserve Bank of Philadelphia pada Jumat (15/5), angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat.
Prakiraan sebelumnya sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah hanya sebesar 2,7%. Lonjakan proyeksi ini juga terpaut jauh melampaui tingkat inflasi kuartal pertama tahun 2026 yang tercatat sebesar 3,1%.
Laporan tersebut menonjolkan bahwa penutupan Selat Hormuz memicu rantai kenaikan harga yang mengguncang prospek ekonomi global. Sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia, gangguan di wilayah tersebut menyebabkan kelangkaan pasokan energi.
Kondisi ini berdampak langsung pada membengkaknya biaya distribusi barang ke berbagai kawasan. Menurut data AAA, harga bahan bakar telah melonjak lebih dari US$1,50 per galon sejak Februari.
Kenaikan biaya transportasi tersebut kini mulai merembet ke berbagai sektor produk konsumen. Jika prakiraan ini akurat, inflasi saat ini merupakan yang tertinggi sejak 2023 dan berpotensi menyamai rekor tertinggi pada tahun 2022.
Tingginya harga barang dan energi mulai menghambat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Para ahli kini merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui Produk Domestik Bruto atau PDB menjadi 2,2% untuk tahun 2026.
Angka proyeksi tersebut mengalami penurunan dari perkiraan sebelumnya yang mematok pertumbuhan di level 2,5%. Situasi ini menempatkan otoritas moneter dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan pengendalian inflasi tanpa memicu resesi yang lebih dalam.
Bagi konsumen, kenaikan inflasi hingga 6% berarti daya beli secara riil akan terkoreksi tajam. Risiko ini mengancam masyarakat jika kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan lonjakan harga kebutuhan pokok.
Di sisi lain, pergerakan inflasi juga terjadi di tingkat domestik dan global dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai pembanding, Indeks Harga Konsumen atau CPI Amerika Serikat naik 0,6% pada April 2026 yang dipicu oleh kenaikan biaya energi akibat perang di Iran.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi April 2026 di Indonesia sebesar 0,13% secara bulanan. Angka inflasi tahun kalender tercatat berada di level 1,06%.
Pada bulan sebelumnya, BPS mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,41% secara bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi menjelang momen Lebaran.
Kondisi inflasi ini berbeda dengan pertengahan tahun lalu, di mana Yogyakarta sempat alami deflasi pada Agustus 2025 sebesar 0,24% secara bulanan. Secara nasional, BPS ungkap inflasi Agustus 2025 justru mengalami deflasi sebesar 0,08%.
Blokade Jalur Pasokan Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz kini kembali menjadi titik panas konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Otoritas Amerika Serikat mengumumkan telah mengalihkan puluhan kapal komersial dan melumpuhkan beberapa kapal sebagai tindakan blokade.
Pejabat Pentagon mengakui Iran masih menjadi ancaman di Selat Hormuz meski militer mereka mengalami kerusakan. Perang yang dikenal dengan sandi Epic Fury tersebut dilaporkan telah menelan biaya mencapai US$29 miliar.
Dampak konflik ini memaksa kapal komersial memutar ke rute Afrika dan masuk ke zona serang perompak Somalia. Pengalihan jalur navigasi internasional tersebut membuat biaya operasional membengkak hingga US$1 juta per kapal.
Menghadapi situasi ini, Uni Emirat Arab melalui perusahaan ADNOC mempercepat pembangunan pipa minyak baru West-East ke Pelabuhan Fujairah. Langkah strategis ini diambil guna mengamankan ekspor minyak mereka dari ancaman blokade Iran.
Di ranah diplomasi, Donald Trump mengeklaim bahwa Xi Jinping menawarkan bantuan untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Trump menyebut Beijing memberikan jaminan tidak akan mengirimkan perlengkapan militer untuk membantu Iran dalam konflik dengan AS dan Israel.