Ekonom Prediksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan

Ekonom Prediksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan
Foto: Ilustrasi Ekonom Prediksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan.

Sejumlah ekonom dan analis pasar keuangan memproyeksikan Bank Indonesia bakal mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur periode Mei 2026.

Langkah pengetatan moneter tersebut dinilai perlu segera diambil guna mengantisipasi depresiasi mata uang rupiah yang terus berlanjut, seperti dilansir dari Money. Head of Macroeconomics and Market Research PermataBankÔÇÖs PIER Faisal Rachman menjelaskan bahwa ruang intervensi suku bunga kini semakin lebar.

"Jadi kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 basis point itu di Semester I ya, jadi mungkin ada di Mei atau Juni ini BI Rate akan dinaikkan ke 5 persen," ujarnya saat media briefing PIER Economic Review, Selasa (12/5/2026).

Faisal menjabarkan bahwa secara historis, bank sentral biasanya mulai menaikkan suku bunga saat pelemahan rupiah menembus angka 3 persen, sementara saat ini penyusutan nilai mata uang tersebut sudah melewati 4 persen. Upaya stabilitas lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia juga dinilai telah dioptimalkan secara penuh oleh bank sentral.

"Jadi ini kita memang perlu antisipasi. Tetapi memang risiko faktor ketiga tadi, itu ada dan kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan ke 5 persen itu terbuka ya saat ini," ucapnya.

Sentimen negatif pasar turut membayangi pergerakan mata uang garuda seiring dengan penutupan perdagangan pada Selasa (19/5/2026) yang melemah 38 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp 17.706 per dollar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai respons otoritas keuangan cenderung terlambat dalam memitigasi tekanan pasar global.

"(BI Rate akan naik) 25 bps. Pelemahan rupiah ini mencerminkan sentimen yang lemah pada rupiah, investor menganggap pemerintah dan BI tidak cukup cepat bertindak dan menganggap ringan permasalahan di awal-awal," ujar Lukman kepada Kompas.com, Selasa.

Lukman menyatakan keraguan atas proyeksi penguatan rupiah pada Juli mendatang yang sempat disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo lantaran tingginya harga minyak dunia dan sentimen pasar yang kurang kondusif. Menurutnya, besaran kenaikan suku bunga saat ini tidak akan cukup kuat untuk menahan arus depresiasi.

"Kalau dinaikkan lebih awal, mungkin 50 bps sudah mencukupi, saat ini saya lihat 100 atau 150 bps pun sulit meredam tekanan pada rupiah," tukasnya.

Tekanan terhadap mata uang nasional juga dipengaruhi oleh faktor domestik yang memicu kecemasan para pelaku pasar modal. Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memaparkan bahwa rupiah telah melemah sebesar 5,5 persen secara year to date.

"Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang," ujar Riefky dalam hasil penelitiannya dikutip Rabu (20/5/2026).

Riefky menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan fiskal dan risiko penambahan beban kewajiban kontingen menjadi faktor penekan internal. Kendati kebijakan ini berpotensi menahan laju pertumbuhan penyaluran kredit perbankan, prioritas stabilitas mata uang dinilai jauh lebih mendesak.

"Kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps dianggap wajar dalam lingkungan saat ini," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi