Ekonom Perkirakan Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Mei 2026

Ekonom Perkirakan Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Mei 2026
Foto: Ilustrasi Ekonom Perkirakan Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Mei 2026.

Bank Indonesia dinilai berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik, dilansir dari Nasional.

Kondisi pasar keuangan saat ini menunjukkan rupiah sempat menyentuh angka Rp 17.733 per dolar AS. Selain itu, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan hingga ke kisaran 6,86%.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai arah kebijakan bank sentral saat ini telah bergeser demi memprioritaskan stabilitas mata uang domestik.

"Karena Gubernur BI menyebut sekarang sudah menggeser fokusnya menjadi ke arah pro-stability, ya bisa jadi dia akan langsung melakukan kebijakan kenaikan suku bunga," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Langkah penyesuaian tersebut dipandang dapat memberikan dampak positif bagi masuknya modal dari luar negeri karena instrumen investasi berbasis rupiah menjadi lebih kompetitif.

"Itu yang akan membuat likuiditas, terutama dari luar, akan ada yang masuk ke sini. Sehingga tugas BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan menyerap likuiditas jadi lebih ringan," kata Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Meski demikian, kebijakan pengetatan moneter ini juga membawa risiko bagi sektor riil karena berpotensi membebani pembiayaan usaha.

"Kalau BI Rate naik itu sudah repot semuanya urusannya. Kemungkinan biaya ekspansi bisnis naik, terus momentum pertumbuhan ekonomi bisa terganggu," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Pandangan serupa mengenai arah suku bunga disampaikan oleh Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede yang memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 5%.

"Kenaikan suku bunga dapat memperbaiki daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal, memperkuat minat investor terhadap SBN dan SRBI, serta mengurangi tekanan inflasi impor," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.

Pengetatan ini tetap menyimpan tantangan bagi sektor perbankan dan industri yang mengandalkan kredit.

"Dampaknya bisa lebih terasa pada sektor yang sudah lemah seperti UMKM, properti, otomotif, dan industri yang bergantung pada pembiayaan," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.

Berbeda dengan pandangan sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual memproyeksikan bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam pengumuman yang dijadwalkan pada Rabu, 20 Mei 2026.

"Sejauh ini target inflasi masih dalam kisaran proyeksi BI, kecuali ada kenaikan harga BBM bersubsidi dan Pertamax," ujar David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Walau memproyeksikan status quo, ia tidak menampik adanya dampak positif apabila suku bunga pada akhirnya tetap dinaikkan.

"Manfaatnya aset rupiah ekspektasinya lebih menarik di mata investor asing dan menambah dana inflow," kata David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Ia menambahkan bahwa kenaikan suku bunga dalam skala kecil diperkirakan tidak akan mengganggu target penyaluran dana perbankan secara makro.

"Masih bisa harusnya di 11%-13% kalau hanya naik 25-50 bps," ujar David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Sementara itu, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang melihat potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tetap terbuka akibat depresiasi rupiah.

"Naik 25 bps karena pelemahan rupiah," kata Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon.

Ia menilai instrumen kebijakan lain dari pemerintah dapat menjadi penyeimbang untuk menekan risiko perlambatan ekonomi.

"Sejauh ini belum ya karena fiscal support masih lebih kuat dan semoga bisa meng-counter dampak kenaikan suku bunga nantinya," ujar Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon.

Artikel terkait

Rekomendasi