Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede meluruskan anggapan keliru di masyarakat mengenai dampak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap perekonomian nasional di Makassar pada Minggu (24/5/2026). Ia menyatakan pandangan bahwa pelemahan rupiah selalu menguntungkan ekonomi melalui dorongan ekspor merupakan penyederhanaan masalah yang tidak sesuai dengan struktur ekonomi Indonesia.
Koreksi ini menanggapi narasi dari sejumlah influencer dan pelaku pasar di media sosial yang sering mengabaikan kondisi fundamental ekonomi domestik yang masih bergantung pada impor bahan baku, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
ÔÇ£Kita mungkin perlu mengedukasi terkait sudah beredar pernyataan yang tidak edukatif terkait pelemahan rupiah yang disebut bisa mendukung ekonomi melalui penguatan ekspor,ÔÇØ ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata dalam Media Gathering Bank Indonesia di Makassar.
Depresiasi mata uang Garuda dinilai hanya memberikan keuntungan bagi sektor tertentu seperti eksportir komoditas, tetapi sebaliknya bakal memberikan tekanan berat pada industri manufaktur nasional.
ÔÇ£Itu sangat keliru, totally wrong. Kalau kita bicara secara struktural fundamental ekonomi kita, memang eksportir komoditas bisa diuntungkan. Tapi industri manufaktur yang mengandalkan impor bahan baku justru akan terbebani,ÔÇØ kata Josua Pardede.
Ketergantungan terhadap bahan baku impor yang tinggi menjadi karakteristik sebagian besar industri manufaktur di dalam negeri. Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor manufaktur memegang peranan krusial sebagai penyumbang kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 19,07 persen, dengan laju pertumbuhan yang tetap kuat di angka 5,04 persen secara tahunan (yoy).
Tekanan ganda berupa peningkatan biaya produksi serta dorongan inflasi juga berpotensi muncul karena banyak barang impor yang digunakan untuk konsumsi domestik. Pergerakan nilai tukar ini pun disorot terkait dengan peran otoritas moneter.
ÔÇ£Bank Indonesia bukan mengarahkan nilai tukar ke level tertentu, tetapi menjaga stabilitas. Karena bagi pelaku usaha, yang paling dibutuhkan adalah stabilitas,ÔÇØ ujar Josua Pardede.
Dunia usaha membutuhkan stabilitas nilai tukar guna menyusun perencanaan bisnis, termasuk untuk kalkulasi kebutuhan impor dalam jangka waktu tiga hingga enam bulan ke depan. Fluktuasi kurs yang tinggi dikhawatirkan mengganggu proyeksi biaya produksi dan kontrak dengan pemasok luar negeri.
Menurut analisis Josua, depresiasi rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal, terutama peningkatan eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perhatian lembaga pemeringkat global terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Faktor musiman pada kuartal II setiap tahun turut memberikan tekanan tambahan akibat melonjaknya permintaan dolar Amerika Serikat untuk pembayaran dividen perusahaan tercatat.
ÔÇ£Kalau teman-teman lihat jadwal dividend payment perusahaan, itu banyak di bulan Mei. Jadi wajar ada peningkatan permintaan dolar di kuartal kedua,ÔÇØ jelas Josua Pardede.
Peningkatan kebutuhan valuta asing pada periode tertentu di Indonesia juga didorong oleh faktor musiman lain seperti pelaksanaan musim haji.