Penyesuaian skema bagi hasil aplikator ojek online menjadi 92 persen untuk mitra pengemudi dan 8 persen untuk perusahaan dinilai sebagai bentuk adaptasi positif dalam merespons arahan pemerintah. Langkah ini dipandang mampu menyelaraskan regulasi pemerintah dengan kesejahteraan mitra serta keberlanjutan bisnis digital nasional, Kamis (21/5/2026).
Kebijakan pemotongan komisi tersebut dilansir dari Investor Daily berdasarkan analisis Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman. Penerapan skema baru ini memicu penyesuaian layanan dari sejumlah perusahaan aplikator besar di Indonesia.
"Langkah ini dapat dilihat sebagai titik tengah antara kepatuhan terhadap arahan pemerintah, upaya menjaga kesejahteraan mitra, dan kebutuhan menjaga sustainability bisnis digital nasional," ujar Rizal, Kamis (21/5/2026).
Perusahaan seperti GoTo dianggap masih memiliki ruang bertahan yang kuat karena ditopang oleh ekosistem digital yang terintegrasi. Penurunan komisi memang berpotensi menekan margin dalam jangka pendek, namun bisnis dapat tetap terjaga melalui optimalisasi volume transaksi dan loyalitas pengguna.
"Tantangan ke depan adalah bagaimana GoTo bertransformasi dari model bakar uang menuju model bisnis yang lebih sustainable, dengan menjaga keseimbangan antara kesejahteraan mitra, harga kompetitif bagi konsumen, dan profitabilitas perusahaan di tengah tekanan regulasi dan persaingan industri digital yang semakin ketat," kata Rizal.
Sebagai informasi, GoTo melalui Gojek telah melakukan penyesuaian skema bagi hasil layanan roda dua, menghentikan program GoRide Hemat, dan memperkuat program kesejahteraan mitra. Di sisi lain, Grab Indonesia juga menyatakan komitmen serupa untuk menjaga tingkat pendapatan mitra mereka.
"Ekosistem ojek online saat ini berkontribusi signifikan terhadap PDB dan menopang sekitar 5,53 juta pekerjaan secara langsung dan tidak langsung," ujarnya.
Rizal mengingatkan bahwa tekanan terhadap margin aplikator harus tetap diimbangi dengan efisiensi operasional dan investasi teknologi. Jika keseimbangan ini tidak tercapai, risiko dikhawatirkan akan bergeser pada pengurangan promo atau kenaikan biaya layanan bagi konsumen.
"Jika margin aplikator terlalu ditekan tanpa reformasi model bisnis dan efisiensi operasional, risiko yang muncul justru shifting burden ke bentuk lain," tutupnya.