Ekonom Sebut Pelemahan Rupiah ke Rp 17.500 Bukan Sinyal Krisis 1998

Ekonom Sebut Pelemahan Rupiah ke Rp 17.500 Bukan Sinyal Krisis 1998
Foto: Ilustrasi Ekonom Sebut Pelemahan Rupiah ke Rp 17.500 Bukan Sinyal Krisis 1998.

Nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.529 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026) pukul 15.05 WIB dinilai tidak mencerminkan kondisi krisis moneter seperti tahun 1998. Hal tersebut dipicu oleh fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini dianggap jauh lebih stabil dan kuat.

Dilansir dari Money, mata uang Garuda tercatat mengalami penurunan sebesar 115 poin atau sekitar 0,66 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Tren pelemahan ini telah berlangsung sejak Senin (4/5/2026) ketika rupiah melampaui angka psikologis Rp 17.400 per dollar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan penegasan bahwa situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis hebat yang terjadi puluhan tahun silam. Ia menunjuk indikator cadangan devisa dan utang luar negeri sebagai bukti ketahanan ekonomi nasional.

"Kami perlu memberikan edukasi bahwa kondisi rupiah saat ini yang berada di atas Rp 17.000 per dollar AS tidak bisa disamakan dengan kondisi saat krisis moneter 1998," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Data Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa RI berada di angka 146,2 miliar dollar AS pada April 2026. Sementara itu, total utang luar negeri Indonesia per Februari 2026 tetap terjaga pada level 437,9 miliar dollar AS.

"Menurutnya, masyarakat yang tidak memiliki eksposur langsung terhadap valuta asing (valas) sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah saat ini. Sementara bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur valas, tentu dapat melakukan mitigasi melalui berbagai instrumen lindung nilai," tambah Josua.

Pelemahan nilai tukar ini disebut bersumber dari faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan AS yang belum mencapai kesepakatan turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

"Kedua faktor tersebut terhadap Indonesia relatif lebih besar dibanding beberapa negara lain sehingga transmisi dampaknya terhadap rupiah juga lebih cepat," kata Josua.

Sebagai perbandingan sejarah, pada krisis 1998 rupiah pernah menyentuh Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dollar AS. Namun secara persentase, depresiasi kala itu mencapai 690 persen dari level Rp 2.441 pada Juni 1997, jauh berbeda dengan kondisi fluktuasi saat ini.

"Meskipun demikian, masih terdapat faktor domestik yang perlu dijawab pemerintah," tukas Josua.

Artikel terkait

Rekomendasi