| ÔùÅ Dzulfian menegaskan penurunan hanya terjadi pada outlook, bukan rating maupun kondisi dasar perbankan nasional, sehingga tidak perlu disikapi secara berlebihan. ÔùÅ Ia menyoroti sejumlah indikator yang tetap kuat, seperti pertumbuhan kredit, DPK, CAR sekitar 25%, NPL di kisaran 2%, serta likuiditas yang masih aman. Khusus Himbara, pertumbuhan kredit bahkan disebut masih dua digit dan di atas rata-rata industri. ÔùÅ Menurut Dzulfian, perhatian utama MoodyÔÇÖs bukan pada kesehatan bank, melainkan pada efektivitas tata kelola dan arah kebijakan ekonomi nasional, sehingga ini harus jadi momentum untuk menjaga stabilitas makro, disiplin kebijakan, dan kepercayaan investor. |
| ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ |
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Dzulfian Syafrian menilai, penurunan outlook bank-bank yang termasuk dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) oleh MoodyÔÇÖs perlu disikapi secara proporsional dan tak berlebihan.
Menurutnya, perubahan peringkat menjadi negatif dari lembaga pemeringkat tersebut hanya terjadi pada outlook, bukan pada rating maupun kondisi fundamental perbankan nasional.
ÔÇ£Dengan kata lain, MoodyÔÇÖs sedang memberi sinyal kewaspadaan terhadap arah risiko ke depan, terutama terkait efektivitas dan tata kelola kebijakan ekonomi Indonesia,ÔÇØ ujar Dzulfian dalam keterangan tertulis, kepada Investortrust, Jumat (27/3/2026).
Ia menyatakan, penurunan outlook tersebut juga tidak disebabkan oleh lemahnya kinerja fundamental perbankan Indonesia. Sebaliknya, berbagai indikator justru menunjukkan kondisi yang masih sangat solid.
Per Desember 2025, kredit perbankan tercatat tumbuh lebih dari 9% secara year on year (yoy), sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat lebih dari 13% (yoy). Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di kisaran 25%, dengan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) yang tetap rendah di kisaran level 2%.
ÔÇ£Kondisi likuiditas tercermin dari LCR (liquidity coverage ratio) atau indikator lainnya juga masih aman. Semua indikator ini menunjukkan kinerja baik perbankan dari berbagai aspek, intermediasi, kualitas aset, permodalan, dan likuiditas tetap terjaga,ÔÇØ kata Dzulfian.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) juga menyatakan bahwa ketahanan sektor perbankan nasional di awal 2026 masih berada dalam kondisi yang solid, meskipun di tengah tekanan eksternal seperti dinamika geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global.
Menurut Dzulfian, hasil kajian internal OCE (Office of Economist) Perbanas juga menunjukkan bahwa perbankan nasional tetap resilien dalam menghadapi berbagai risiko, baik dari sisi mikro maupun makro sistem keuangan.
Khusus untuk bank-bank Himbara, ia juga menilai kinerjanya masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Pertumbuhan kredit tercatat tetap berada pada level dua digit, bahkan melampaui rata-rata industri perbankan.
ÔÇ£Ini penting karena menunjukkan bahwa Himbara tetap menjalankan fungsi intermediasi secara kuat di tengah ketidakpastian dan gangguan eksternal,ÔÇØ ucap Dzulfian.
Ia menjelaskan, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, dana murah atau current account and saving account (CASA), rasio permodalan, hingga kualitas aset di bank-bank pelat merah juga masih berada dalam kondisi yang sangat baik.
Lebih lanjut, Dzulfian menilai bahwa fokus utama yang disoroti MoodyÔÇÖs sebenarnya berada pada aspek kebijakan makro nasional, bukan pada kesehatan sektor perbankan itu sendiri.
ÔÇ£Penurunan outlook ini mesti kita jadikan momentum untuk memastikan bahwa stabilitas makro, disiplin kebijakan, dan kepercayaan investor mesti terus tetap terjaga saat ini dan ke depannya,ÔÇØ ujarnya.